Asah cipta dan cinta
Oleh : khozinul Asror Al- Hadrie
ASAH CIPTA DAN CINTA
Merupakan kompensasi yang layak untuk diuji . bahwa, tidak ada manusia yang secara tulus mencoba dan menolong orang lain . melainkan potensi itu mereka tuangkan demi dirinya sendiri. Bagaimana perihal itu bisa dibuktikan kebenarannya ?
Jika seorang puitis misalnya, yang jemawah melantunkan senandung puisinya untuk menengadah atau menghepnotis para pendengar , maka mereka serontak memperkokoh maha karyanya demi orang lain, tapi pada esensinya hal itu sengaja dilakukan agar kembali kepada dirinya secara mutlak. Mungkin bisa dikatakan usaha tadi sengaja dilakukan demi tepuk tangan meriah dari para pendengar , pada umumnya.
Ada pepatah meengatakan, bahwa seruling bukanlah seruling sebelum ia ditiup dan dilantunkan melodinya . begitupun lonceng, ia tidak dikatakan lonceng sebelum anda membunyikannya, pun demikian lagu, ia bukanlah lagu sebelum, ia dinyanyikan dengan merdu, cinta yang bertahta dalam dada (hati) tidak boleh didiamkan begitu saja , sehingga ia membeku menjadi duka yang kemudian merusak tatanan kehidupan. Dengan perihnya ia menyiksa jiwa , sehingga kita tidak layak pula dikatakan manusia jika tidak bercinta. Dari konotasi , yang sekian banyak bermuara , dimana satu sama lain saling memperkokoh dan menopang sehingga menjadi satu kesatuan yang tangguh. Itulah sebabnya, allah menciptakan makhluknya dimuka bumi dari berbagai golongan, suku, ras, dan juga budaya , sebenarnya tidak lain dan tidak bukan! Hanyalah Sebagi mandat untuk saling melengkapi . sehingga dari kata ‘’melengkapi’’ terjadilah kata ‘’saling menyempurnakan ‘’. Dan setidaknya, kita mencapai pada tingkat kolerasi yang sangat memuncak sehingga buaian asmara menguap dan terjadilah benturan asa dan rasa sehingga tahap percintaanpun menjadi sempurna.
Nah, jika cinta bukan cinta sebelum kita memberikan pada yang lain, bagaimana dengan gelombang ujian,? Bukankah tuhan demi stabilitas dan juga sunahnya – sudah membiarkan ketidak adilan yang dilakukan oleh makhluknya , juga allah membiarkan hal iu terjadi begitu saja.
Dalam hemat penulis sebenarnya allah tidak menguji seorang hamba , berdasarkan kata uji yang miring berada di kepala kita ,. Melainkan allah menginginkan seorang hambanya untuk selalu menempa dan senantiasa membangun diri . ujian juga sebagai hadiah dari tuhan sebagai pendewasaan diri dan kematangan sikap. Sehingga, ketika tuhan sudah mengetahui, hasil akhir dan nilai seorang hamba, mengapa ia masih perlu menguji? Bukankah ini perbuatan sia-sia ? bukankah dengan ujian akan semakin banyak spekulan pan penjudi dadakan ? tidak, tuhan tidak sedang menguji hambanya. Dia (dengan ujian itu ) hanya ingin kita melihat dan menyaksikan sendiri potensi serta kualitas diri kita sendiri . bahasa gampangnya, jika buruk segera lakukan tahap perbaikan, dan jika baik maka lakukan tahap peningkatan. Rupa-rupanya ciri pribadi yang visioner adalah dia yang cepat meninggalkan keadaannya saat ini demi melangkah pada jenjang berikutnya.

2 komentar untuk "Asah cipta dan cinta"