CATATAN QUDWAH WANITA
┏━━━━━━━━━━━━━━┓
CATATAN QUDWAH WANITA
┗━━━━━━━━━━━━━━┛
*TELADAN MASA KINI*
Seorang perempuan datang dan bertanya kepada guru kami, Ummu Salim mengenai solusi dalam rumah tangganya disaat aku dan beberapa kawan yang lain sedang duduk-duduk santai dengan beliau. Dia bertanya kepada beliau bagaimana menghadapi suami yang keras hati dan mudah terpancing emosi.
Beliau menasehatinya dan menceritakan kisah indah yang akan selalu kuingat, sebab kuharap dapat menjadi bekal bagiku dan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
''Yang sabar, begitulah hidup. Menikah itu kan ibadah, dan seperti ibadah yang lain, syeitan tentu tak akan membiarkan kita menyelesaikannya dengan baik. Syeitan akan mencegah kita dari menjalani ibadah dengan semestinya. Kamu jangan kalah dari godaan syeitan. Ibadah menikah yang kau jalani, laksanakan sesuai dengan akhlaq dan adab yang sudah diajarkan Baginda Nabi sallallahu alaihi wasallam"
Lalu beliau bercerita, '' Dulu di kampung saya ada satu keluarga besar yang memiliki satu perusahaan milik bersama yang dikelola oleh adik bungsu mereka dan istrinya. Usianya sekitar 40 tahunan. Suatu hari adik pemegang perusahaan ini meninggal dunia, meninggalkan istri dan beberapa anak yang masih kecil. Sesudah masa berkabung usai, keluarga besar mereka mengadakan pertemuan yang intinya mereka harus menikahkan janda adik mereka ini dengan salah satu anggota keluarga. Tujuannya, agar perusahaan tidak bermasalah dan agar janda adik mereka tidak dilamar oleh orang lain karena mereka sudah menyayanginya dan menyayangi anak-anaknya sebagai bagian dari keluarga besar. Masalahnya, semua saudara laki-laki dari almarhum sudah menikah dan menikah dan berkeluarga, maka pilihan jatuh kepada keponakan almarhum yang waktu itu umurnya baru beranjak 20 tahunan.
'aku tidak mau' ujar pemuda itu, menolak permintaan ayah dan paman-pamanya.
'Bagaimana mungkin kalian akan menikahkan ku dengan mantan bibiku yang usianya bahkan hampir seumuran ibuku?' begitu dia berdalih
Tapi penolakannya tak terima, mereka tetap memaksanya menikah tanpa mempertimbangkan usia. Ayahnya bahkan berkata 'kau nikahi saja dulu janda pamanmu ini. Jika nanti sesudahnya kamu ingin menikah dengan yang lain, kamu bisa melakukannya. Bukankah laki-laki memiliki hak untuk menikahi lebih dari satu perempuan ?'
Maka, meski terpaksa dia akhirnya mau juga.
Sesudah masa Iddah selesai dan sang janda menyetujui dengan segala pertimbangannya, akad nikah dilaksanakan, dan bahtera rumah tanggapun mereka arungi sejak saat itu hingga 20 tahun kemudian.
Sang istri kini berusia 60 tahun dan mulai sakit-sakitan, tentu dia tak lagi sekuat dulu, keluarga besar sering mendengar kabar dia sedang tak enak badan. Sementara suaminya yang baru berusia 40 tahunan sedang dalam keadaan yang paling prima. Sang ayah kembali memanggil anaknya untuk berbicara secara pribadi.
'Nak, kami dulu memaksamu menikahi janda pamanmu, meskipun usia kalian terpaut jauh. Sekarang kami dengar istrimu mulai sakit-sakitan dan keadaannya mulai lemah, kami mengerti bahwa sebagai laki-laki muda dengan segala kebutuhanmu, pastilah hal ini bukan perkara yang mudah. Karenanya.. jika ada perempuan yang ingin kamu nikahi, sampaikanlah. Kami akan melamarnya untukmu. Kamu tak perlu menceraikan istrimu, nanti biar ibu dan bibimu yang akan menyampaikan hal ini kepadanya. Kurasa sebagai wanita yang bijaksana, dia akan memahaminya. Demikian sang ayah menyampaikan semua itu dgn hati-hati, karena tentu saja hal ini cukup sensitif untuk dibicarakan.
Namun jawaban dari anaknya benar-benar tak disangka.
'maafkan aku, ayah. Aku tak sanggup menduakan apalagi meniggalkan istriku. Terimakasih atas tawaran ayah, namun aku memilih untuk tidak menerimanya' ujarnya tegas.
'kenapa ?' tanya sang ayah keheranan
'sebab dia adalah perempuan terbaik yang pernah kukenal. Sebagai istri dia memperlakukanku selayak raja. Memanggilku dengan panggilan yang Kusuka, ceria, bijaksana, selalu tersenyum, dan tak pernah mengeluh apalagi marah bahkan di saat aku dulu memperlakukannya dengan semena-mena sekalipun.'
Ayahnya mendengarkan dengan khidmat.
Lalu laki-laki itu melanjutkan,
'Bersamanya membuatku lebih menghargai kehidupan, mengerti rasanya dihormati, disayangi, dan dicintai. Dia membuatku semakin mengerti kasih sayang ALLAH kepada kita, hambanya.. Dia memperlakukanku sebagai satu-satunya lelaki yang ALLAH izinkan untuk dia cintai, dia tak pernah menduakanku dengan apapun dan siapapun. Karenanya dimasa dia lemah dan sakit-sakitan seperti ini, aku akan melakukan hal yg sama untuknya, aku tak mau menduakannya. Dan tak akan sanggup melakukannya sebab dia tak terduakan dihatiku'
Ummu Salim mengakhiri kisahnya dengan berkata
" Suamimu menikah lagi atau tidak pada akhirnya merupakan takdir, namun menjadi wanita yang layak dicintai dan diridhai suami adalah ibadah yang harus kamu lakukan sebagai seorang istri. Suamimu meninggalkanmu atau tidak pada akhirnya adalah takdir, namun tugasmu adalah menjadi perempuan yang tak pantas ditinggalkan''
Ucapan Ummu Salim tentu sangat benar adanya meskipun kurasa bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengamalkannya dalam kehidupan. Tapi.. dengan mengingat hal ini semoga ibadah panjang berupa pernikahan ini berhasil kita bangun hingga berakhir surga.
Sebab Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan '' Jika ada seorang perempuan meninggal dunia, dan suaminya Ridha kepadanya maka surga adalah tempat kembalinya. '' (H.R Tirmidzi)
" Jika ada perempuan yg shalatnya baik, puasanya baik, dan dia taat kepada suaminya, jika dia meninggal dunia, kelak di surga dia boleh memilih untuk masuk surga dari pintu manapun yang dia inginkan. '' (H.R Ibnu hibban)
Istri shaliha tidak harus yang hafal 30 juz, tapi setidaknya ideologi dia berlandaskan Al-Qur'an dan Hadist, Istri idaman adalah dia yang tau malu dan tau diri, istri shaliha tidak harus lulusan pondok pesantren, karena anak umum bukan lugu soal agama dan bukan berarti anak umum itu dipandang rendah. Yang rendahan itu ketika sekolah tinggi-tinggi tapi kontribusi untuk agamanya nihil. Kebanyakan orang pasti merasa fakir ilmu, karena dengan spirit itulah orang terus terdorong untuk senantiasa belajar. Cantik itu relatif, bukan kesepakatan jumhur para pria didunia.
Menikah adalah ibadahmu kepada ALLAH, dan balasan ibadahmu hanya dari-NYA bukan dari suamimu. Karenanya.. jangan gantungkan harapanmu kepada suamimu, bergantunglah hanya kepada ALLAH.
'' Dan hendaklah kalian kaum perempuan yang beriman berdiam diri dirumah, janganlah berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang terdahulu '' - Q.S Al-ahzab 33
Jadilah istri yang shaleha kepada suamimu karena-NYA
والله اعلم بالصوب.

Posting Komentar untuk "CATATAN QUDWAH WANITA "