Mari menjadi manusia
Oleh : Abdul hafidz F.
MARI MENJADI MANUSIA
Salah satu anugrah dari tuhan, yang menjadikan manusia berbeda dengan ciptaan yang lain adalah akal budi. Tidak bisa kita pungkiri bahwa setiap dari kita memiliki unsur akal, namun segelintir yang dapat menggunakannya dengan benar. sering kita dengar pada manuskrip yang sudah plural, bahwa manusia adalah basyir yang dalam hal ini diartikan sebagai hewan yang kulitnya nampak jelas tanpa tertutupi bulu yang lebat. Namun definisi yang sangat pantas untuk menta’rif manusia secara terminologi adalah Hewan yang mempunyai kemampuan untuk menggunakan akal budinya (berakal/berpikir).
Namun bagaimana seandainya manusia secara wujud namun ia tidak dapat mengaplikasikan software yang sangat vital pada dirinya yang disebut akal, apakah makhluk yang seperti ini dikatakan manusia?. Jika mucul pernyataan demikian sudah jelas bahwa manusia yang tidak mampu mendayagunakan akal, maka gelar yang tepat untuknya adalah gila. Lalu akan muncul ungkapan “seandainya manusia sudah menggunakan akal budi, namun akalnya tidak difungsikan dengan baik dan benar, apakah sifat kemanusiaannya masih dapat disematkan?”.
Dari sini kita dapat memilah dengan menyederhanakan akal menjadi 2 yaitu, akal sehat dan akal tidak sehat. Akal sehat adalah akal yang rutin diaplikasikan, pada cara penggunaan yang benar, dan kebalikan dari itu adalah akal yang tidak sehat.
Dan dengan akal yang sehat, akan timbul dalam benak kita sebuah pertanyaan filosofis tentang bagaimana cara menggunakan akal dengan benar?. Dan benar itu bagaimana?. Dengan permasalahan ini muncul sebuah disiplin ilmu yang menjabarkan tentang bagaimana akal itu digunakan dengan benar. Ilmu itu adalah ilmu Mantiq/Logika.
Disiplin ilmu ini akan membawa kita untuk menjadikan diri menjadi manusia yang benar-benar manusia, karena kebenaran dari karya akal tidak akan terkonklusikan dari cara yang salah. Dan tidak bisa kita nafikan bahwa, sejatinya kita sedang berjalan untuk mencari kebenaran. Lalu apa substansi dari kebenaran itu?.
Poros terbesar yang memicu bekerjanya akal sehat adalah kebenaran. Di Zaman yunani kuno, tepatnya -+400-530 tahun sebelum masehi, muncul seorang filosof yang membawa satu karya besar dari pemikirannya. Ia adalah Protagoras, masyarakat Athena pada saat itu terguncangkan akalnya, terrobohkan keyakinannya dengan hasil pemikiran Protagoras yang berkata bahwa kebenaran itu relatif. Kamu berhak menentukan kebenaranmu sendiri, dan apa yang menurutmu benar belum tentu benar menurutku. Atas dasar akal pemuda Athena yang terisi oleh kerasionalan dari filsafat Protagoras ini, maka banyak diantara mereka yang meninggalkan agamanya, menyingkirkan keimanannya dan wujud tuhanpun menjadi hangat diperdebatkan.
Lambat laun muncullah filosof baru dengan membawa pemikiran besar. Dengan bermodal akal dan kekuatan rasionalisme, Socrates mampu mereboisasi otak-otak pemuda Athena yang telah terkontaminsi dengan prinsip kebenaran relatif, satu-persatu dari mereka kembali kepada tuhan dan keyakinan mereka. Di zaman Socrates inilah muncul kebanaran Relatif dan kebenaran subjektif, ilmu definisi dan cara berpikir induktif. Namun untuk mempertahanan pemikirannya ini Socrates harus rela dihukum mati.
Akal sudah mampu membonsai perilaku manusia sedemikian hebat, namun kebenaran dari akal itu akan kokoh jika terbangun dari keilmuan yang kuat. Dan sehebat apapun akal berpikir, tidak akan mengurangi dan menambah keyakinan pada tuhan. Jika keimanan masih dapat terkikis oleh akal yang begitu liar, maka kata iman tidak patut lagi kita sematkan.
Sumber : Al-Manthiq Wamanahij Al-Bahts, Berjabatangan Dengan Filsafat, Filasafat Umum, Sulam Al-Munawwaroq

Posting Komentar untuk "Mari menjadi manusia"