[Tanpa judul]
SELERA GHIBAH BUDAYAWAN NEGARA
Relasi kini menjadi sorot pembingungan, dimana situasi
Negara saat ini bisa dikatakan tidak
baik baik saja (sakit). Dikarenakan banyak kontroversi yang terjadi baik
dari kalangan bocah, anak muda, tua, dan diatas tua pun juga ada (kakek, nenek
). Sehingga bukanlah suatu hal yang tidak wajar jika kecamuk sering terjadi .
baik, dari kalangan bersorban hingga yang telanjangpun ikut sok paham. Dinamika
yang semacam ini , perlu ditelanjangi per-item, agar sorot public tidak meraja rela
seolah-olah kaum rasionalpun tak berdaya. dengan alasan mereka tidak ikut andil
dalam perniagaan Negara. Musnah bukan,.! ? tapi sebenarnya faktapun miris
bungkam karna adidaya susila kini tidak diperlakukan layaknya kebenaran yang
sudah sekian abat di perbincangkan . baik dari komunitas bersarung, berpeci,
tukang nasi, tukang bungkus lontongpun , dengan asyiknya juga ikut serta
memeriahkan topic ini(mencari kebenaran) . yah begitulah…. Keheranan , bukan menjadi ajang solusi, dianmika
berkelanjutan seolah tak memperdaya impra struktur tatanan dunia yang logis.
Seolah kini, donat tidak layak lagi dimakan oleh kalangan atas . dan remeh
temeh , bungkam mungkam bahkan singgul minggul lah yang kerap menjadi tragedi
keluhuran.. sampek emak –emak pun kini beranja dari tempat persemidian , dengan
hebohnya meneriakkan kemakmuran, padahal, saya yakin 100 % kuran 25 itu hanyalah
tanggapan guyonan. Yang sengaja mereka lontar karna saking perihnya mata
terkena bumbu makanan ( didapur). Jadi mulai kini stop mengatakan aneh untuk
Negara . semakin kalian mencirca tatanan budaya , maka gerobak bakso pun juga
ikut bicara.. wkwkwkw…..
Mengulas
pada peradapan berbaju, maka yang telanjang kini seakan disuruh bungkam .
pemadu relasi sering ditabrakan dengan hal konyol yang bisa dikatakan itu
adalahg hal tidak begitu penting untuk diperbincangkan. Namun, dengan tanda
kutip tapi, jangan lemahnya daya keharmonian !! Kita emang negarawan yang pandai
mulai sejak dalam buaian kasih sayang… buktinya dengan hadirnya kita
bertahun-tahun Indonesia tidak terkikis rapuh untuk mundur…dan itu merupakan
improve yang paling mendasar . bahwa sebagai anak bangsa tugas kita hanyalah
menjungjung dan sangat fasik sekali jika kita tebar mulut hanya dengan
menggerogoti tatanan hanya dengan berbagai kritikan. Baguslah kita katakan ,
bahkan, perlu kita untuk unjuk jari untuk mengacungkan jempol , sebagai bentuk
rasa keperdulian. Maka, tahap yang paling fundamental adalah kritikan
pedas, dengan gema yang membungkam .

2 komentar untuk " "