Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

[Tanpa judul]


oleh : Khozinul Asror S.H
 

SELERA GHIBAH BUDAYAWAN NEGARA

Relasi kini menjadi sorot pembingungan, dimana situasi Negara saat ini bisa dikatakan tidak  baik baik saja (sakit). Dikarenakan banyak kontroversi yang terjadi baik dari kalangan bocah, anak muda, tua, dan diatas tua pun juga ada (kakek, nenek ). Sehingga bukanlah suatu hal yang tidak wajar jika kecamuk sering terjadi . baik, dari kalangan bersorban hingga yang telanjangpun ikut sok paham. Dinamika yang semacam ini , perlu ditelanjangi per-item,  agar sorot public tidak meraja rela seolah-olah kaum rasionalpun tak berdaya. dengan alasan mereka tidak ikut andil dalam perniagaan Negara. Musnah bukan,.! ? tapi sebenarnya faktapun miris bungkam karna adidaya susila kini tidak diperlakukan layaknya kebenaran yang sudah sekian abat di perbincangkan . baik dari komunitas bersarung, berpeci, tukang nasi, tukang bungkus lontongpun , dengan asyiknya juga ikut serta memeriahkan topic ini(mencari kebenaran) . yah begitulah…. Keheranan ,  bukan menjadi ajang solusi, dianmika berkelanjutan seolah tak memperdaya impra struktur tatanan dunia yang logis. Seolah kini, donat tidak layak lagi dimakan oleh kalangan atas . dan remeh temeh , bungkam mungkam bahkan singgul minggul lah yang kerap menjadi tragedi keluhuran.. sampek emak –emak pun kini beranja dari tempat persemidian , dengan hebohnya meneriakkan kemakmuran, padahal,  saya yakin 100 % kuran 25 itu hanyalah tanggapan guyonan. Yang sengaja mereka lontar karna saking perihnya mata terkena bumbu makanan ( didapur). Jadi mulai kini stop mengatakan aneh untuk Negara . semakin kalian mencirca tatanan budaya , maka gerobak bakso pun juga ikut bicara.. wkwkwkw…..

                Mengulas pada peradapan berbaju, maka yang telanjang kini seakan disuruh bungkam . pemadu relasi sering ditabrakan dengan hal konyol yang bisa dikatakan itu adalahg hal tidak begitu penting untuk diperbincangkan. Namun, dengan tanda kutip tapi, jangan lemahnya daya keharmonian !! Kita emang negarawan yang pandai mulai sejak dalam buaian kasih sayang… buktinya dengan hadirnya kita bertahun-tahun Indonesia tidak terkikis rapuh untuk mundur…dan itu merupakan improve yang paling mendasar . bahwa sebagai anak bangsa tugas kita hanyalah menjungjung dan sangat fasik sekali jika kita tebar mulut hanya dengan menggerogoti tatanan hanya dengan berbagai kritikan. Baguslah kita katakan , bahkan, perlu kita untuk unjuk jari untuk mengacungkan jempol , sebagai bentuk rasa keperdulian.  Maka,  tahap yang paling fundamental adalah kritikan pedas, dengan gema yang membungkam .

2 komentar untuk " "

Zaen 26 November 2020 pukul 03.56 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Pelayan ilmu 27 November 2020 pukul 00.25 Hapus Komentar
./,/" Dll Ustadz