Sepucuk surat untuk tuhan
Oleh : Khozinul Asror S,H
Spontalitas saya beranjak dari tempat asal diam semula. Lalu terkikis benak-ku untuk mengawali tajuk mulut yang kering, bah asatnya sumur terkena panasnya kemarau. Kemudian di alam bawah sadar serontak terketuk jiwa untuk menulis ungkapan rasa untuk Dia yang maha perkasa. dengan judul ‘’sepucuk surat untuk tuhan. Dengan tujuan yang agak sedikit mengherankan, dan juga bermula dari sujud disepertiga malam . dimana kala itu, embun dengan tebaran dinginnya , menghantarkan kepori-pori bagian luar kulit, senandung mengajak muhasabah diri akan nikmat yang kian banyak Allah berikan kepada hambanya . tapi dengan tidak sadar hal itu (nikmat) terkadang menjadi haruan masa dan tangisan semesta, sebab asa sudah tidak peduli lagi , dan keadaan lah yang menyebabkan kita buang wajah dengan titipan tuhan yang begitu indah itu.
Seberapapun kejamnya dunia fana, adalah suatu kehinaan belaka. jika ajang kompetensi dalam gelutan semesta kita anggap sebagai perniagaan neraka. Dan bisa didekte, seolah kita mengatakan bahwa dunia hanya diciptakan sebagai sarana kesengsaraan dan duka .
Menilik pada kutipan surah yang teduh nan sejuk untuk dimuhasabah ‘’fa biayyi alaa-i rabbikuma tukadziban ‘’ ( surah al-rahman) , seakan-akan Allah sudah tidak bisa lagi kita acung tangan dengan menengadah atas pemberian-nya berdasarkan cukup besar nya limpahan nikmat serta buaian rahmatnya.
Dengan segala keperkasaan sudah seharusnya wajah hina ini mengakui bahwa engkaulah (allah) dzat sekaligus sifat, yang segala kalkulator canggih tidak dapat menjangkau persen tinggi dari rumusan matematika apapun. Karena semuanya terasa semu, dan kehidupan ini seolah rekayasa dan juga imajinasi belaka . dzolimkah hambamu ini ?.....jika dengan kuantitas kadar kelemahan, mengikrarkan diri atas ketidak berdayaannya dengan status seorang hamba dihadapan raja dari segala raja.dengan cara apapula, ku tekukkan jari kaki lalu merengek dan menjerit atas segala kefakiran dalam menghadap dzat yang maha kaya . dan untuk sekian kalinya saya harus bertanya dengan penuh kebodohan “apakah layak engkau panggil hamba diri ini wahai tuhan’’? .

3 komentar untuk "Sepucuk surat untuk tuhan"