Liannaka Nabiyuna
LIANNAKA NABIYUNA
Sudahkah telinga pilu kini membisik ke-bagian qalbu untuk berkata ‘’aku sudah siap melaksanankan tugasmu’’, adzan menggema, menjadi semacam lonceng yang bertanda menyudahi aktivitas semu, suara syahdu memikat dari berbagai penjuru seperti kisah cinta bilal pada sang rasul pelipur rindu , semua yang masih tersisia sepanjang lorong mulai meninggalkan tanah suci , menuju lembah kekal yang menanti. Wanita tuna netra itu sudah bergegas ketempat yang menjadi acuan penghulu area dimana tempat itulah yang menyambut hangat serpihan derita .
Lagu melayu remik menyeruak dibarengi gelak tawa. Mereka sudah hafal kapan harus memberhentikan berisik dan kapan pula mereka harus menikmati irama indahnya . dunia semakin fantastis mengapungkan sayapnya seolah buayan mesra dari kehidupan logis sudah tak berdaya. Entah kemana lagi lonceng itu akan kembali bersuara menuju waktu tiba sesudahnya.
Dur….Dur……dur suara itu mulai menggendang, sementara nafas masih Tarik hulur dalam memilih akankah kaki memulai pergi atau malah sebaliknya diam tanpa arti. Serontak hati berkata ‘’ya tuhanku,’’ apakah ini ujian bagiku, padamu kuheningkan kepala lugu dan simpuh deras kusaksikan nikmatnya hidup bersama ciptaannMu. Proposal meminta keridhaan terus ku hulurkan dengan harapan besar mendapat apresisasi dari dzat yang maha sayang . kemudian, dengan style lugu aku coba berpolitik dengan cara khasku itu, yah, aku tahu, ‘’ Muhammad ‘’. Dia adalah satu-satunya orang kepercayaanMu. Sehingga dengan malunya ku berwasilah melalui pujaanMu, dengan ekpresi menengadah bertekuk lutut seraya berkata ‘’ wahai idolaku tahukah engkau siapa orang yang berada dihadapanMu , ini aku ummatmu, seseorang yang sudah sekian lama lupa pada kulit itu’’. Dan pada akhirnya, aku mulai meyakinkan diri seraya meng-iyakan doa yang sudah kutitipan pada idolaku itu, seraya berkata ‘’aku yakin mendapatkannya’’.
BENARKAH ITU ?


Posting Komentar untuk "Liannaka Nabiyuna"