Habis Terang Terbitlah Gelap
Secara teori mungkin mungkin saja semua itu benar adanya terjadi di dunia ini. Banyak pakar pakar dari berbagai bidang mulai dari psikologi, social, politik dan lain lain menyetujui akan rangkaian cerita monoton tersebut. Bahkan dalam kitab kitab suci yang ada di dunia ini banyak yang mengatakan hal senada akan alur tersebut. dalam Kitab Suci Alquran disebutkan Allah Ta’ala berfirman:
سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5)فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(5). Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6)” (QS. Al Insyirah: 5-6)
Selain itu terdapat juga dalam Kitab Injil atau Alkitab yang menjelaskan hal mirip tentang konsep setelah ada suatu masa sulit akan ada masa bahagia. Adapun Kutipan ayat alkitab itu terdapat pada:
”Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Dari literasi dalam kitab dua agama mayoritas dunia diatas menunjukkan bagaiamana pandangan kedua agama tersebut pada masalah ini. Pasalnya memang tak dapat dipungkiri bahwa setiap permasalahan pasti berujung akan suatu situasi yang solutif dan menjadi titik Balik dalam kehidupan.
Namun, bila kita telisik dari pendekatan tasawwuf sebenarnya seluruh aspek dalam duniawi akan selalu memiliki dua sisi baik dan buruk. Dan meski banyak kejadian yang selalu berakhir bahagia tak menutup kemungkinan itu akan berakhir buruk di akhirnya. Banyak realita yang berujung ekspetasi luar biasa indah namun berujung bahagia yang musnah. Maka bila ada istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang” tentu saja akan ada juga isitilah “Habis Terang Terbitlah Gelap”.
Semua yang kita rasakan dan alami adalah rezeki dari Allah SWT. Dan karenanya kita tak boleh lalai dan lupa diri sebab semua itu adalah titipan. Rezeki pun oleh ulama dalam bidang tasawwuf disebutkan:
“Rezeki yang paling rendah adalah harta, rezeki yang paling tinggi adalah adalah kesehatan, dan rezeki yang paling utama adalah Anak yang Sholeh. Namun rezeki yang paling patut disyukuri adalah Husnul Khotimah”
Dari maqolah diatas mengindikasikan betapa pentingnya rezeki yang disebut Husnul Khotimah. Yaitu nikmat untuk mengakhiri permainan fana di dunia dengan Happy Ending. Namun nikmat ini bukan hanya dimiliki oleh para alim ulama. Melainkan ini semua anugerah yang bahkan sehina apapun manusia bisa mendapatkannya karena rahmat Allah SWT. Sebaliknya setaat dan sebaik apapun manusia juga bisa berakhir dalam kegelapan diakhir hayatnya (Su’ul Khotimah).
Alkisah terdapat sebuah hikayat masyhur yang berkaitan tentang nikmat tuhan satu ini. Kisah itu adalah tentang cerita “Syekh Barshishah Al ‘Abid”. Cerita ini lengkap tertera pada kitab klasik dari karangan ulama Mesir pada abad ke 10 H. adapun cerita dimana kehidupan Syekh Barhishah yang terdapat dalam kitab tersebut adanya seperti ini.
Brashisha al-'Abid, begitulah orang-orang memberi gelar kepadanya. Al-‘abid artinya ahli ibadah. Julukan itu diberika padanya karena ketekunan dia dalam beribadah tiada henti pada Allah SWT. Tindakan dia inipun bahkan membuat seluruh masyarakat di daerahnya sangat mengagumi dan menjunjung dia. Tak ayal bahkan para malaikat pun merasa takjub akan ketekunan dan kegigihan dalam peribadatannya.
Syekh satu ini terkenal selain dalam ibadahnya, dia terkenal akan kesaktiannya dan menjadi seorang guru spiritual. Dalam kitab dijelaskan bahwa dia memiliki kesaktian yang hebat hingga keseluruh 60.000 murid di padepokannya punya ilmu tinggi dan bisa terbang . Namun, ketika semua malaikat sedang asyik kagum dengan kehebatan Syekh Barshisha, Allah memberikan peryataan yang membuat mereka terkejut.
"Mengapa kalian begitu takjub pada Barshisha? Bagi-Ku dia hanyalah makhluk yang sama seperti setan. " Tegur Allah pada para malaikat. Sontak ,para malaikat pun terbelalak dan kaget mendengarnya. Merekapun Tak henti henti menebak akan nasib apa yang Allah SWT. Berikan padanya. Hingga seorang alim dan ahli ibadah seperti dia dapat termasuk dalam perbandingan seperti setan.
Alkisah Syekh Barshisha memiliki suatu kesaktian yang sangat banyak. Salah satunya adalah dia bisa menyembuhkan orang gila hanya dengan menyentuh orang tersebut. dia seringkali didatangi oleh masyrakat untuk mengobati penyakit mental yang diderita keluarga mereka. Akibatnya berita tersebut menyebar hingga ke telinga seorang raja pada masa itu yang memiliki putri gangguan jiwa.
Ketika raja mendengar kabar tentang Syekh Barshisha diapun mengutus para ajudan untuk menemui Syekh Barshisha dengan Sang Putri Raja. Ajudan yang diberi tugas Sang Raja segera membawa Sang Putri melintasi kerajaan menuju kediaman orang sakti tersebut. sesampainya disana para ajudan memberi tahu tentang penyakit Sang Putri dan niat mereka datang untuk menyembuhkan dia. Akhirnya setelah menyerahkan Putri mereka meninggalkan dia dan kembali ke kerajaan.
Setelah seluruh ajudan pergi meninggalkan Syekh Barshisha berdua dengan Sang Putri. Melihat hal itu iblis pun datang karena melihat kesempatan untuk menggoda seorang Syekh Barshisha. Iblis berkata "Hei Barshisha, apa kau tak melihat betapa cantiknya Putri tersebut? harusnya kau sadar kalian sedang berdua dan tak ada seorangpun disini. Bukankah Ia begitu menggoda. Dan lagi dia sedang gila cobalah cicipi saja tubuh dia, sekali-sekali tak apa bukan? Ayolah, ku kira pantas bagimu untuk rehat sejenak dari aktivitas ibadahmu yang melelahkan, dia tak akan sadar apa yang terjadi ketika sudah sembuh". Sesaat Syekh Barshisha berpikir sejenak pada perkataan Iblis tersebut.
Tak disangka Syekh Barshisha tergoda akan bujuk rayu Iblis. Diapun melakukan tindakan biadab tersebut dengan Si Putri dalam keadaan gila. Celakanya baru saja Syekh Barshisha puas melampiaskan nafsunya, Iblis datang kembali membisikkan niat jahatnya. “ Sungguh celaka dirimu, kau pasti tidak berpikir bukan bila nanti anggota kerajaan memergokimu. Cepat atau lambat mereka pasti akan tau dan datang untuk menghukum mati dirimu. Meskipun andai kau tak dihukum mati, semua perbuatan bejatmu pada Sang Putri kerajaan itu akan menghancurkan seluruh reputasimu. Belum lagi kau terkenal dengan julukan orang sakti dan ahli ibadah, mau ditaruh kemana muka mu wahai Barshisha??”
Syekh Barshisha dilanda kebingungan yang sangat dahsyat. Ia mulai gelisah terhadap diri sendiri dan mulai kalap mencari cara bagaimana untuk menutupi semua ini apapun itu caranya. Disaat ini Iblispun datang kembali padanya dan berkata “Sudah tak usah kau pusing. Cukup bunuh saja dia disini sekarang. Bilang saja jika dia kabur saat kau akan mengobatinya dan hilang entah kemana. Mereka akan mengiyakan alasan mu dan mengira dia akan pulang ke kerajaan kembali . andai pun dia tak kembali mereka akan menyangka dia dimakan binatang buas hutan ini. Semua akan berjalan sempurna dan mereka tak akan menghukummu.
Syekh Barshisha lagi lagi terjerumus dalam bujukan Iblis. Dia menuruti saran untuk membunuh putri tersebut lalu menyembunyikan mayatnya dalam tanah yang sangat dalam. Syekh Barshisha merasa lega dan kembali tenang . Namun itu tak berlaku untuk Iblis. Setelah dia berhasil memperdaya manusia yang terkenal akan ahli ibadah tersebut. lblis menyamar menjadi seorang pengemuka agama yang memiliki ilmu luas. Dia datang ke kerajaan ayah korban tersebut lalu mengadukan perbuatan Syekh Barshisha .
Alhasil seluruh prajurit kerajaan berbondong-bondong ke padepokan Syekh Barshisha, naas dia pun dihukum dan disalib di tengah alun alun kerajaan. Sungguh, kini Barsisha sudah tak mampu melakukan apa-apa. Di tengah kepiluan Ahli ibadah satu ini iblis datang untuk lebih jauh lagi membuat dia terjerumus dosa . Iblis mengatakan “Aku akan menolongmu. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi." "Apa itu, sungguh akan kulakukan asal engkau mau menyelamatkan," tanya Syekh Barsisha kegirangan. "Sembahlah aku." Maka, dengan sisa-sisa tenaga, Barsisha yang mulai melemah pun akhirnya melakukan apa yang diperintah oleh Iblis. Dia pun dengan sepenuh hati menyembah iblis dengan harapan dia segera dibebaskan olehnya. Namun ketika dia menyembah Iblis, Allah SWT. Mencabut nyawa sang ahli ibadah tersebut. akhirnya dia yang dari lahir memiliki ilmu dan akhlak yang baik menemui ajalnya dengan aqidah dan ilmu yang terkoyak tipu daya iblis. Dan hidup dan matinya terkenal sebagai manusia yang bergelar Habis Terang Terbitlah Gelap.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah itu adalah kebenaran itu bukan hak manusia untuk menentukan. Manusia tak tahu sejauh mana hidupnya berjalan dalam jalan penuh hikmah. Boleh jadi kini berselimut kebijaksanaan namun entah kini, esok atau nanti berubah menjadi kehinaan. Manusia tak bisa menghakimi dan berbangga atas dirinya sendiri karena semua itu adalah kehendak Allah SWT. Bahkan dalam islam pun tidak diperbolehkan mengutuk seseorang yang dzalim atau maksiat secara personal. Karena bisa jadi kemudian dia bertaubat dan Husnul Khotimah.
“Lebih baik kita menyebut 1000 ahli neraka menjadi ahli surga, daripada menyebut satu ahli surga menjadi ahli neraka.”
Sayyid Alawi Almaliki Al Hasani.
Aku, Tuhan, dan Semesta
Mungkin sedikit Dilematis jika ada premis seperti “Tuhan Adalah Alam Semesta” , atau timbul pertanyaan “Jika Tuhan memang berkuasa mengapa terlalu banyak umat manusia yang jahat dan tetap dibiarkan menindas? Jika dibiarkan berarti Tuhan tidak Maha Pengasih. Lalu jika mampu melakukan mengapa kejahatan masih tetap ada?” atau “Bila Tuhan tak bergantung pada makhluk dan terikat ruang dan waktu mengapa Tuhan memiliki singgahsana dan duduk di Arsy?” itulah beberapa pertanyaan yang seringkali diungkapkan Agnostik dan Atheis dalam merongrong keyakinan umat beragama.
Bila dilihat dan dipahami secara lebih teliti, konsep dan keyakinan yang mereka para agnostic dan Atheis pertahankan terlihat sangat rasional. Seringkali ilmuan dalam perkembangannya malah menuhankan semesta dan sains hingga seorang Stephen Hawkings memiliki buku yang membahas Sainsteisme. Namun semua itu sebenarnya adalah wujud dari kerusakan logika yang ditenagai oleh ego.
Mungkin perkara mudah bila semua pertanyaan tersebut dijawab dengan dalil Naqli. Namun dalil hanya memiliki impact pada pengikut dan orang yang mempercayainya. lantas teknik berlogika yang hanya dapat menjawab hal hal tersebut. Suatu urgensi tersendiri bagaimana keseluruh pertanyaan tersebuit dijawab karena yang diserang bukan sekedar fisik, tapi ide.
ide merupakan virus yang paling mudah menjangkiti seseorang dan berdiam dalam waktu lama sampai ada tindak lanjut akan ide tersebut. jika ada sseorang yang berkata pada kalian “jangan memikirkan gajah berwarna pink” pasti justru kalian memikirkan hal itu bukan?. Semakin kalian berusaha menyingkirkan ide itu justru semakin lekat dalam benak kalian. Begitupun pertanyaan pertanyaan retoris atheis dan agnostic tersebut. Namun meski dalil sudah ada, ide tentang pertanyaan tersebut tak akan sirna sebelum terjawab sesuai logika.
Pertama pertama tentang apakah Tuhan adalah semesta itu sendiri. Hal ini berdasarkan bahwa bagaiamana alam semesta begitu berkembang tanpa batasan. Dan kehidupan manusia yang sangat kecil dibandingkan alam semesta yang tak diketahui. Cukup sampai disitu pemikiran akan Tuhan dan Semesta, Namun berarti juga bila manusia adalah Tuhan karena merupakan bagian dari semesta itu bukan? Disitulah letak Logical Fallacies nya, manusia yang serba lemah dan memiliki berbagai keterbatasan apakah layak disebut Tuhan? Dan bagaimana manusia yang juga sering merusak alam, apakah dia merusak bagian dari “ketuhanan” yang ada dalam dirinya? Tentu saja bukan.
Logikanya tidak ada satupun yang ada dunia ini yang tidak memiliki pencipta. Tak pernah ada cerita sebuah mobil tiba tiba muncul begitu saja didepam mata. Begitu juga alam dan seisinya, sistem kehidupan yang sangat kompleks tak begitu saja muncul. Sampai sini sudah jelas bukan? Selanjutnya pasti muncul pertanyaan “jika alam semesta diciptakan Tuhan, siapa yang menciptakan Tuhan?”. Begini kita tahu 1+1=2, kita tahu 2 tercipta dari dua unsur bilangan tunggal 1. Lalu angka 1 datang begitu saja tanpa berasal dari angka apapun dan semua orang begitu saja percaya dan tenang akan hal itu. Lantas apa yang kalian bingungkan dan sesulit apa kalian mempercayai Tuhan tak perlu diciptakan?.
Kedua tentang bagaimana dzat Tuhan membiarkan kejahatan begitu saja di dunia. Pertama perlu diluruskan konsep baik dan buruk. Kebaikan tidak akan disebut kebaikan bila tidak ada kejahatan menjadi batas atau tolak ukur. Jadi kehadiran dari suatu kejahatan memang diperlukan. Kedua, mengasihi atau tidak itu bukan suatu kewajiban bagi Tuhan, mengapa? Karena Tuhan adalah suatu keabsolutan yang tak akan diatur dan dituntut oleh sesuatu. Jika sesuatu masih dapat di kekang oleh aturan atau bergantung pada sesuatu masih pantas disebut Tuhan? Jelas tidak.
Selebihnya pertanyaan terkait mampu atau tidak dan mau atau tidak nya Tuhan menyingkirkan kejahatan akan gugur sendirinya karena Tuhan tidak terkait apapun. Terlebih bila kita membahas dalil tentu saja akan lebih mudah menggugurkan persoalan tersebut tentang sifat jaiz bagi Tuhan:
فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ اَوْ تَرْكُهُ
Artinya: Allah mungkin melakukan sesuatu atau meninggalkannya
Ketiga tentang bagaimana perihal penciptaan Arsy yang kemudian Tuhan Jadikan singgahsana. Semua yang diciptakan bukan berarti itu dibutuhkan, sama halnya dengan manusia membuat Nuklir, apakah itu dibutuhkan?dan jika memang dibutuhkan mengapa belum pernah digunakan ? teknologi itu diciptakan hanya sebagai ajang menunjukkan kekuasaan ataupun kekuatan. Simple bukan? Lalu bukankah agama sangat rasional?. Belum lagi bila kita mengutip dalil atau referensi dari kitab klasik. Mudah saja argumen tersebut hancur seketika. Adapun dalil yang berkaitan adalah sebagai berikut.:
Mulaa Ali Al-Qarii menukilkan dalam syarh Al-Fikhul Al-Akbar,
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺇﻇﻬﺎﺭًﺍ ﻟﻘﺪﺭﺗﻪ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya.”[5]
Lalu firman Allah SWT dalam Alqur’an:,
قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيم
“Katakanlah, ”Siapakah Yang Menguasai langit yang tujuh dan Yang Menguasai ‘Arsy yang besar?” (Al-Mu’minun: 86).
Begitulah agama, banyak yang sepintas dirasa tidak masuk akal namun sesungguhnya semuanya masuk akal. Tak dapat dipungkiri agama merupakan suatu konsep yang bagi sebagian orang khususnya yang non beragama adalah ilusi. Namun sebaliknya, logika yang mengatakan agama ilusi adalah logika yang delusional.
Banyak berbagai macam aturan agama yang sebenarnya memiliki alasan rasional dan bahkan teruji di bidang ilmiah. Sebut saja syariat tentang Thaharah air liur anjing dengan debu. Dalam bidang fisio kimia dan bahkan sempat diutarakan dalam konferensi islam Asia Afrika tentang penelitian perihal debu. Debu memiliki partikel yang unik yang dapat membersihkan kotoran dan menetralisir bakteri dan virus hingga tingkat yang sulit digapai anti septik abad ini. hingga pada saat itu membuat non muslim mulai mencari kebenaran dari Syariat yang tertuah dalam Alquran sampai saat ini.
Terlepas dari hal hal yang bersifat membahas dzat ketuhanan banyak sekali hal hal lain yang patut untuk ditelaah. Menelaah atau bertafakkur merupakan suatu perilaku yang sangat dianjurkan. Hingga disebutkan bahwa untuk mengikuti pendapat atau madzhab seseorang harus sembari menelaah pandangan tersebut agar tak berubah menjadi taqlid buta.
Berfikir atau menelaah sesuatu menjadi urgensi yang tak dapat dihiraukan dan dapat dikatakan sangat krusial. Sebab dalam berfikir iman, akal, dan hati kita dapat menjadi lebih kuat dan teguh beriman. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW, menyampaikan bahwa betapa penting dan utamanya manusia untuk berfikir.
سِتِّيْنَ سَنَة تَفَكُّرْ سَاعَة خَيرٌ مِنْ عِبَادَةٍ
Artinya: berfikir sesaat itu lebih baik dari ibadah 60 tahun
Meskipun hadits diatas termasuk hadits dalam tingkatan Dhaif namun sebagai keutamaan tetapi bisa dijadikan rujukan walaupun tidak dapat menjadi hujjah. Yang menjadi garis bawah adalah dalam objek berfikirnya. Yaitu bertafakkur atas apa yang diciptakan oleh Khalik yaitu Makhluk. Karena dengan mengkaji hal tersebut membuat pemikiran menjadi lebih luas dan tentunya tidak riskan seperti membahas Tuhan. Apalagi membahas Dzatnya yang bukan merupakan ranah manusia pada umumnya untuk membahasnya. Hingga saat nanti Akhirat tiba maka Allah akan menunjukkan Dzat-Nya yang merupakan nikmat terindah yang dapat dirasakan umat islam kala itu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keingintahuan manusia dalam berlogika memang tak terbatas. Logika yang selalu menginginkan jawaban rasional atas segala hal tentunya memiliki batas. Agama memang bagi sebagian orang hanya dianggap sesuatu yang tidak logis dan jelas. Nyatanya sangat dapat dilogikakan bagi orang orang yang mau berfikir dengan waras. Logika hadir bukan sebagai alat mengkritik dan mempertanyakan agama dengan pedas. Namun hadir sebagai jembatan bagi hati, akal dan agama untuk menjadi selaras.
“Agama itu pasti bisa dilogikakan, jika sampai ada yang tidak bisa maka ada yang salah dengan logikanya.”
Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Alhasani

Posting Komentar untuk "Habis Terang Terbitlah Gelap"