Aku, Tuhan, dan Semesta
Aku, Tuhan, dan Semesta
Oleh: Khozinul Asror S.H
Mungkin sedikit Dilematis jika ada premis seperti “Tuhan Adalah
Alam Semesta” , atau timbul pertanyaan “Jika Tuhan memang berkuasa mengapa
terlalu banyak umat manusia yang jahat dan tetap dibiarkan menindas? Jika
dibiarkan berarti Tuhan tidak Maha Pengasih. Lalu jika mampu melakukan mengapa
kejahatan masih tetap ada?” atau “Bila Tuhan tak bergantung pada makhluk dan
terikat ruang dan waktu mengapa Tuhan memiliki singgahsana dan duduk di Arsy?”
itulah beberapa pertanyaan yang seringkali diungkapkan Agnostik dan Atheis
dalam merongrong keyakinan umat beragama.
Bila dilihat dan dipahami secara lebih teliti, konsep dan keyakinan
yang mereka para agnostic dan Atheis pertahankan terlihat sangat rasional.
Seringkali ilmuan dalam perkembangannya malah menuhankan semesta dan sains
hingga seorang Stephen Hawkings memiliki buku yang membahas Sainsteisme[1].
Namun semua itu sebenarnya adalah wujud dari kerusakan logika yang ditenagai
oleh ego.
Mungkin perkara mudah bila semua pertanyaan tersebut dijawab dengan
dalil Naqli. Namun dalil hanya memiliki impact pada pengikut dan orang yang
mempercayainya. lantas teknik berlogika yang hanya dapat menjawab hal hal
tersebut. Suatu urgensi tersendiri bagaimana keseluruh pertanyaan tersebuit
dijawab karena yang diserang bukan sekedar fisik, tapi ide.
ide merupakan virus yang paling mudah menjangkiti seseorang dan
berdiam dalam waktu lama sampai ada tindak lanjut akan ide tersebut. jika ada
sseorang yang berkata pada kalian “jangan memikirkan gajah berwarna pink” pasti
justru kalian memikirkan hal itu bukan?. Semakin kalian berusaha menyingkirkan
ide itu justru semakin lekat dalam benak kalian. Begitupun pertanyaan
pertanyaan retoris[2]
atheis dan agnostic tersebut. Namun meski dalil sudah ada, ide tentang
pertanyaan tersebut tak akan sirna sebelum terjawab sesuai logika.
Pertama pertama tentang apakah Tuhan adalah semesta itu sendiri.
Hal ini berdasarkan bahwa bagaiamana alam semesta begitu berkembang tanpa
batasan. Dan kehidupan manusia yang sangat kecil dibandingkan alam semesta yang
tak diketahui. Cukup sampai disitu pemikiran akan Tuhan dan Semesta, Namun berarti
juga bila manusia adalah Tuhan karena merupakan bagian dari semesta itu bukan?
Disitulah letak Logical Fallacies nya, manusia yang serba lemah dan
memiliki berbagai keterbatasan apakah
layak disebut Tuhan? Dan bagaimana manusia yang juga sering merusak alam,
apakah dia merusak bagian dari “ketuhanan” yang ada dalam dirinya? Tentu saja
bukan.
Logikanya tidak ada satupun yang ada dunia ini yang tidak memiliki
pencipta. Tak pernah ada cerita sebuah mobil tiba tiba muncul begitu saja
didepam mata. Begitu juga alam dan seisinya, sistem kehidupan yang sangat
kompleks tak begitu saja muncul. Sampai sini sudah jelas bukan? Selanjutnya
pasti muncul pertanyaan “jika alam semesta diciptakan Tuhan, siapa yang
menciptakan Tuhan?”. Begini kita tahu 1+1=2, kita tahu 2 tercipta dari dua
unsur bilangan tunggal 1. Lalu angka 1 datang begitu saja tanpa berasal dari
angka apapun dan semua orang begitu saja percaya dan tenang akan hal itu.
Lantas apa yang kalian bingungkan dan sesulit apa kalian mempercayai Tuhan tak
perlu diciptakan?.
Kedua tentang bagaimana dzat Tuhan membiarkan kejahatan begitu saja
di dunia. Pertama perlu diluruskan konsep baik dan buruk. Kebaikan tidak akan
disebut kebaikan bila tidak ada kejahatan menjadi batas atau tolak ukur. Jadi
kehadiran dari suatu kejahatan memang diperlukan. Kedua, mengasihi atau tidak
itu bukan suatu kewajiban bagi Tuhan, mengapa? Karena Tuhan adalah suatu
keabsolutan yang tak akan diatur dan dituntut oleh sesuatu. Jika sesuatu masih
dapat di kekang oleh aturan atau bergantung pada sesuatu masih pantas disebut
Tuhan? Jelas tidak.
Selebihnya pertanyaan terkait mampu atau tidak dan mau atau tidak
nya Tuhan menyingkirkan kejahatan akan gugur sendirinya karena Tuhan tidak
terkait apapun. Terlebih bila kita membahas dalil tentu saja akan lebih mudah
menggugurkan persoalan tersebut tentang sifat jaiz bagi Tuhan:
فِعْلُ كُلِّ
مُمْكِنٍ اَوْ تَرْكُهُ
Artinya: Allah
mungkin melakukan sesuatu atau meninggalkannya
Ketiga tentang bagaimana perihal
penciptaan Arsy yang kemudian Tuhan Jadikan singgahsana. Semua yang diciptakan
bukan berarti itu dibutuhkan, sama halnya dengan manusia membuat Nuklir, apakah
itu dibutuhkan?dan jika memang dibutuhkan mengapa belum pernah digunakan ?
teknologi itu diciptakan hanya sebagai
ajang menunjukkan kekuasaan ataupun kekuatan. Simple bukan? Lalu bukankah agama
sangat rasional?. Belum lagi bila kita mengutip dalil atau referensi dari kitab
klasik. Mudah saja argumen tersebut hancur seketika. Adapun dalil yang
berkaitan adalah sebagai berikut.:
Mulaa Ali Al-Qarii menukilkan dalam syarh Al-Fikhul Al-Akbar,
ﺇﻥ
ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺇﻇﻬﺎﺭًﺍ ﻟﻘﺪﺭﺗﻪ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan
kekuasaan-Nya.”[5]
Lalu firman Allah SWT dalam Alqur’an:,
قُلْ
مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيم
“Katakanlah, ”Siapakah Yang Menguasai langit yang tujuh dan Yang
Menguasai ‘Arsy yang besar?” (Al-Mu’minun: 86).
Begitulah agama, banyak yang sepintas dirasa tidak masuk akal namun
sesungguhnya semuanya masuk akal. Tak dapat dipungkiri agama merupakan suatu
konsep yang bagi sebagian orang khususnya yang non beragama adalah ilusi. Namun
sebaliknya, logika yang mengatakan agama ilusi adalah logika yang delusional.
Banyak berbagai macam aturan agama yang sebenarnya memiliki alasan
rasional dan bahkan teruji di bidang ilmiah. Sebut saja syariat tentang
Thaharah air liur anjing dengan debu.[3]
Dalam bidang fisio kimia dan bahkan sempat diutarakan dalam konferensi islam
Asia Afrika tentang penelitian perihal debu.[4]
Debu memiliki partikel yang unik yang dapat membersihkan kotoran dan
menetralisir bakteri dan virus hingga tingkat yang sulit digapai anti septik
abad ini. hingga pada saat itu membuat non muslim mulai mencari kebenaran dari
Syariat yang tertuah dalam Alquran sampai saat ini.
Terlepas dari hal hal yang bersifat membahas dzat ketuhanan banyak
sekali hal hal lain yang patut untuk ditelaah. Menelaah atau bertafakkur
merupakan suatu perilaku yang sangat dianjurkan. Hingga disebutkan bahwa untuk
mengikuti pendapat atau madzhab seseorang harus sembari menelaah pandangan
tersebut agar tak berubah menjadi taqlid buta.
Berfikir atau menelaah sesuatu menjadi urgensi yang tak dapat
dihiraukan dan dapat dikatakan sangat krusial. Sebab dalam berfikir iman, akal,
dan hati kita dapat menjadi lebih kuat dan teguh beriman. Dalam hadits Nabi
Muhammad SAW, menyampaikan bahwa betapa penting dan utamanya manusia untuk
berfikir.
سِتِّيْنَ سَنَة تَفَكُّرْ سَاعَة خَيرٌ مِنْ عِبَادَةٍ
Artinya:
berfikir sesaat itu lebih baik dari ibadah 60 tahun
Meskipun hadits diatas termasuk hadits dalam tingkatan Dhaif[5]
namun sebagai keutamaan tetapi bisa dijadikan rujukan walaupun tidak dapat
menjadi hujjah. Yang menjadi garis bawah adalah dalam objek berfikirnya. Yaitu
bertafakkur atas apa yang diciptakan oleh Khalik yaitu Makhluk. Karena dengan
mengkaji hal tersebut membuat pemikiran menjadi lebih luas dan tentunya tidak
riskan seperti membahas Tuhan. Apalagi membahas Dzatnya yang bukan merupakan
ranah manusia pada umumnya untuk membahasnya. Hingga saat nanti Akhirat tiba
maka Allah akan menunjukkan Dzat-Nya yang merupakan nikmat terindah yang dapat
dirasakan umat islam kala itu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keingintahuan manusia dalam berlogika
memang tak terbatas. Logika yang selalu menginginkan jawaban rasional atas segala
hal tentunya memiliki batas. Agama memang bagi sebagian orang hanya dianggap
sesuatu yang tidak logis dan jelas. Nyatanya sangat dapat dilogikakan bagi
orang orang yang mau berfikir dengan waras. Logika hadir bukan sebagai alat
mengkritik dan mempertanyakan agama dengan pedas. Namun hadir sebagai jembatan
bagi hati, akal dan agama untuk menjadi selaras.
“Agama itu pasti bisa dilogikakan,
jika sampai ada yang tidak bisa maka ada yang salah dengan logikanya.”
Sayyid Muhammad Alawi Almaliki Alhasani
[1]
Stephen Hawkings seorang fisikawan dunia yang memiliki buku berjudul “Tuhan dan
Semesta”
[2]
Retoris: majas yang mengandung arti untuk pertanyaan yang tak perlu dijawab
[3]
Kitab Thaharah yang menyatakan aturan membersihkan najis air liur anjing yang
termasuk najis mughalladzah dengan air yang dibasuhkan 7 kali yang mana salah
satunya dicampur debu
[4]
Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1900 an pasca terbentuknya OKI di Rabat,
Maroko
[5]
Hadits Dhaif: hadits yang lemah dikarenakan tidak terpenuhinya syarat untuk
menjadi hadits Shohih

Posting Komentar untuk " Aku, Tuhan, dan Semesta"