Ibadah dalam Kehampaan
Ibadah dalam Kehampaan
Oleh: Khozinul Asror S.H
Melakukan suatu hal yang memiliki keuntungan bagi yang melakukannya
pasti adalah hal yang lumrah. Bahkan dapat dikatakan bila sesuatu itu tidak
memiliki feedback bagi pelaku maka bukan tidak mungkin perbuatan tersebut tidak
akan pernah dilakukan. Manusia bekerja mencari nafkah pasti akan mengharapkan
didapatkannya gaji atau laba. Manusia mencari ilmu pasti mengharapkan
didapatkannya ilmu yang bermanfaat baginya. Beribadah dan menjauhi maksiatpun
dilakukan karena mengharap adanya balasan berupa pahala yang berujung surga
ataupun neraka. Niatan itu mungkin saja
bisa dibenarkan dengan niat ikhlas yakni semata mata mencari ridho Allah.
Yang menjadi Pertanyaannya, semua perbuatan apakah akan tetap
dilakukan bila tidak ada balasan akan perbuatan tersebut? apakah tetap manusia
bekerja bila tidak mendapatkan keuntungan apapun? Dan apakah manusia murni
beribadah karena mencari ridho Tuhan-Nya atau karena takut pada ancaman-Nya?
Lalu, Andai Surga dan Neraka tak ada, apakah manusia tetap beribadah pada
penciptanya? Itulah paradox yang menjadi tanda Tanya besar dalam kajian
spiritual.
Ikhlas dalam berbuat baik yang terjadi dalam Mindset kebanyakan
orang adalah berbuat baik untuk mendapatkan pahala. Bila pahala yang dituju
dalam suatu ibadah maka perlu dikaji kembali arti ikhlas yang sesungguhnya.
Syarat suatu ibadah diterima oleh Allah adalah dengan ikhlas dalam
melakukannya. Hal ini menjadi sangat penting ketika manusia dikaburkan akan
adanya janji surga dan neraka sehingga lupa hakikat mereka beribadah adalah
murni karena Allah SWT. Namun bukan berarti dalam perilaku diatas, tidak
terbesit satupun keikhlasan didalamnya.
Rabiatul adawiyah seorang waliyullah wanita dalam kisahnya yang
masyhur diceritakan, beliau bahkan membawa seember air dan bara api untuk
menyiram neraka dan dan membakar surga[1].
Beliau takut manusia beribadah karena sebab iming iming tersebut. Namun dalam
Alquran sendiri terdapat perintah untuk memasuki surga-Nya.
Dalam surat Qof ayat 34
ادْخُلُوهَا
بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ
Artinya:
Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. (Q.S. Qof Ayat 34)
Ada jawaban untuk memperjelas garis keikhlasan seseorang dalam
beramal. Ikhlas sesungguhnya adalah
membersihkan suatu amal dari berbagai kotoran[2].
Dalam kalimat tersebut Prof. Dr. Quraish Syihab mengartikan bahwa amal tersebut
harus bebas dari motivasi apapun selain mendekatkan diri pada Allah SWT. Tak
ada harapan mendapat surga, harapan mendapat pujian ataupun harapan terhindar
dari neraka dan siksa Allah SWT.
Terlepas dari kutipan Prof, Dr. Quraish Syihab , Syekh Nawawi Al
Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad menerjemahkan garis garis dari keikhlasan
orang menjadi 3 tingkatan :
Tingkatan
Ikhlas pertama dan tertinggi menurut Imam Nawawi dalam kitabnya yaitu
فأعلى مراتب
الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله
والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء
والمال ونحو ذلك
Artinya:
“Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari
perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya
selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari
perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”
Tingkat
tertinggi ini menjadi paling sulit digapai karena untuk mencapai ini manusia
harus mampu melakukan ibadah tanpa motivasi lain. Entah surga atau neraka
takdir mereka, mereka tetap senang asalkan Allah meridhoinya. Tak ada rasa
ingin dipuji ataupun imbalan lain yang diinginkan selain mendekatkan diri pada
Allah. Manusia yang mencapai tingkatan ini akan terus menerus merasa kurang
dalam beribadah. Merasa ibadahnya masih belum sempurna dilakukannya. Bahkan
Waliyullah Rabiatul Adawiyyah yang mecapai tingkatan ini, beliau beristighfar
setelah istighfar karena merasa istighfarnya masih belum sempurna[3].
Selanjutnya Imam Nawawi dalam kitabnya
meneruskan membahas tentang Tingkatan Ikhlas yang kedua yaitu:
والمرتبة
الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة
وتنعيمه بأنواع ملاذها
Artinya:
“Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar
diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan
dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”
Level kedua dari keikhlasan adalah
melakukan peribadatan dalam ketaatan dan mencari ridho Allah SWT. Namun dalam
hatinya masih berbekas suatu keinginan untuk mendapat imbalan berupa kehdupan
akhirat yang nyaman. Bergelimang dengan pahala yang besar dan memiliki
kehidupan di surga. Dengan kata lain tingkatan kedua ini adalah tingkatan yang
beribadah karena ingin mendapat balasan di Akhirat Kelak.
Terakhir dalam kitab Nashoihul Ibad, Imam
Nawawi mengungkapkan tingkatan ikhlas terendah, yaitu :
والمرتبة
الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات
Artinya:
“Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar
diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang
menyakitkan.” Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang
paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia
memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu.
Tingkatan ini
adalah tingkatan yang paling umum berada di masyarakat. Umumnya orang-orang
mendekatkan diri kepada Allah karena ingin memperbaiki hidupnya di dunia.
Mereka beribadah dengan harapan untuk mendapatkan rezeki yang barokah dan
banyak, umur yang panjang ataupun mendapatkan hal hal duniawi. Imam Nawawi
masih Mengkategorikan hal ini sebagai ikhlas. Hal ini disebabkan adanya dalil
dalil yang memang menjanjikan imbalan pada orang yang beribadah dan dalil dalil
yang memberi perintah akan hal itu.
Selain dari
alasan alasan tersebut maka ibadah tersebut dikatakan tidak ikhlas atau Riya’.
Hal ini didasarkan atas tidak adanya dalil dalil yang menjadi alasan untuk
membenarkan motivasi selain ketiga hal yang disebutkan sebelumnya. Oleh karena
itu garis garis batas dalam keikhlasan jelas sudah terpaparkan.
Namun bukan
berarti dalam keikhlasan berpuas diri di tingkatan rendah itu cukup. Sebagai
hamba yang diciptakan hanya untuk beribadah pada Dzat ilahi robbi tentu saja
tingkatan tertinggi adalah tujuan akhir. Banyak kisah kisah yang dapat diambil
Ibrahnya untuk menjadi acuan berikhlas diri. Karena dalam konteks ubudiyah,
keikhlasan adalah suatu keniscayaan.
Dikisahkan pada
zaman Nabi Musa A.S terjadi musim paceklik yang panjang. Umat beliau tersiksa
dan harus rela kehilangan berbagai macam ternak dan hasil kebun mereka.
Meskipun daerah yang didiami yaitu Mesir termasuk daerah yang terkenal subur
dan kaya hasil alamnya. Bani Israel yang merupakan umat Nabi Musa ini pun tak
kuat dan berkali kali memohon kepada Nabi mereka untuk berdoa agar ada titik
akhir dari paceklik tersebut[4].
Singkat cerita
karena terus menerus didesak oleh Bani Israel, Nabi pun menuruti permintaan
mereka. Dengan petunjuk dari Allah SWT. Nabi Musa pun mengumpulkan ummat nya di
sebuah bukit. Mereka melakukan sesuai perintah Nabi Musa lalu berdoa dengan
menengadahkan tangan ke atas langit untuk meminta hujan. Waktu berlalu dan
penantian merekapun masih berlalu namun hujan tak kunjung hadir.
Nabi Musa heran
dilanda ketidaktentuan ini, karena beliau sudah mengikuti tuntunan Allah secara
detail untuk meminta hujan. Melihat hal ini Bani Israel mulai ribut dan
menggerutu kepada Nabi mereka. Melihat hal tersebut Nabi Musa berdoa untuk
meminta petunjuk kembali kepada Allah SWT.
Alhasil beliau
mendapat petunjuk dari Allah SWT. untuk mengabulkan doa tersebut. sesuai
perintah Allah, Nabi pun memanggil seorang umat beliau yang buta kedua matanya.
Semua khlayak yang ada disitu merasa heran akan pilihan Nabi Musa. Bahkan Nabi
pun merasa heran akan hal itu. Namun tanpa menghiraukan hal itu beliau mengajak
orang itu berdua untuk berdoa kepada Allah diatas bukit.
Tak lama
kemudian menyusul kedua orang itu turun dari bukit, hujan pun turun rintik
rintik. Semua orang merasa bahagia kecuali Nabi Musa yang dilanda kebingungan.
Tak kuasa menahan rasa ingin tahu Nabi Musa bertanya kepada orang buta tersebut.
“Hei orang tua, gerangan apa yang membuat kau begitu special dihadapan Allah
SWT.? Apa karena kamu buta? Bukankah banyak orang lain sepertimu?” Tanya Nabi
Musa. Pria buta itu menjawab “Aku buta sejak kecil, tapi aku buta karena aku
sengaja. Aku membutakan mataku karena tidak ingin menambah dosa yang kuperbuat
pada-/Nya. Dahulu aku pernah sekali tak sengaja menatap Aurat wanita yang lewat
depan sungai nil. Aku merasa berdosa dan berjanji tidak akan melakukan hal itu
lagi dengan membutakan mataku. Aku Ikhlas melakukan ini karena ibadah yang aku
rasakan masih sangat minim”.
Begitulah suatu
keikhlasan dapat memengaruhi kemustajaban doa. Bukan karena banyaknya ibadah
yang membuat Tuhan mencintai hamba-Nya. Sekecil apapun bentuk ibadah dan
sesedikit apapun bentuk ibadah bila ikhlas yang menjadi pondasi, Tuhan akan
bangga kepada hal tersebut.
Alhasil ikhlas
merupakan sebuah kunci menuju esensi kenikmatan dalam beribadah. Dalam
keikhlasan terdapat kehampaan duniawi yang membuat orang jarang melakukannya.
Akan tetapi, tanpa ikhlas semua ibadah akan menuju akhir yang sia sia. Begitu
juga sekecil apapun perilaku yang didasari ikhlas dan niat baik akan diagungkan
di hari akhir kelak.
اَلْأَعْمَالُ
صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُـهَا وُجُوْدُ سِرِّ اْلإِخْلاَصِ فِيهَا
"Amal-amal itu semata bentuk-bentuk yang tampil, adapun
ruh-ruh yang menghidupkannya adalah hadirnya sirr ikhlas (cahaya ikhlas)
padanya"
“Al-Hikam Pasal 10: Cahaya Ikhlas”
[1]
Syekh Abdul Wahhab Asy Sya’rani dalam kitab Ath-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul
Anwar fi Thabaqatil Akhyar
[2]
Syekh Ali Al-Jurjani dalam kitabnya “At-Ta’rifat” bahwa ikhlas adalah
suatu keadaan beribadah kepada Allah dengan tanpa mencari siapapun untuk
menyaksikan amalmu kecuali Allah.
[3]
Syekh Abdul Wahhab Asy Sya’rani dalam kitab Ath-Thabaqatul Kubra: Lawaqihul
Anwar fi Thabaqatil Akhyar
[4]
Dikutip dari Irsyadul ‘ibad karya Syekh Abdul Aziz bin Muhammad bin Salman

Posting Komentar untuk "Ibadah dalam Kehampaan"