Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menafsiri kegelapan

 

                                                                  Menafsiri kegelapan

Oleh: Khozinul Asror S.H

Ruangan adalah tempat kosong yang diterjemahkan oleh keadaan.  dimana gejolaklah yang menentukan warna antara gelap ataukah terang , begitupun manusia dengan segala keruntuhan dia hanyalah sebagai pengabdi yang berjalan sesuai dimensi kebingungan tidak ada poros penentu akankah dia berlayar pada jalan keridhaan ataukah sebaliknya (kemurkaan).

Disaat keadaan gelap gulita, jiwa gelisah dan kehidupanpun tidak mengajarkan bagaimana cara untuk melangkah, maka pada saat itulah tubuh mulai menafsirkan tentang keadaan dan tidak satupun yang paham kecuali kesunyian .

Dan solusi yang paling indah untuk diajak berdamai hanyalah pemberi cahaya keterangan.

Kadang dengan lemahnya manusia dia hanya bisa berlutut pada himpitan dimana hal itu merupakan tahap penentu kesadaran apakah ia akan mengheningkah segala gejolak permasalahan pada dzat yang tidak pernah lelah mendengarkan bisikan sunyi atau hanya berkeluh kesah menangisi alam bawah sadar  ?... seakan-akan tidak ada lagi tempat hangat untuk bersandar .

Hingga menarik sekali jika imam AL-Ghozali mengungkapkan dengan untaian bijaknya

‘’tidak pernah aku berurusan dengan sesuatu yang lebih susah dari pada jiwaku sendiri, yang kadang-kala membantuku dan kadang-kala menentangku’’.

Untaian kata tersebut mengajarkan betapa indahnya seni kehidupan yang kian memberi ruang pilihan untuk memilah akan kemanakah manusia berlari menyelesaikan permasalahan gelap untuk menempuh lentera keterangan?  yang mana hal ini merupakan kemustahilan jika kedua-duanya dapat ditempuh dengan beriringan .

Cukup mengambil hikmah dari sosok lilin yang tidak pernah letih bersahabat dengan kegelapan untuk menegaskan arti dirinya tentang sosok terang  dan  alangkah logisnya jika mengambil ungkapan Albert Einstein yang mengatakan bahwa gelap sesungguhnya tiada, karena gelap hanyalah  penerjemah tentang ketiadaan cahaya.  Lihatlah, betapa semakin banyak yang kita tiadakan. Kita meniadakan cahaya, sehingga kegelapan mengada. Betapapun kesalahan, dusta dan kedzoliman yang mana hal ini mengada karena ketiadaan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Jangan biarkan siapapun membuatmu redup hanya saja karena cahaya itu bersinar dimatanya. bagaimanapun kehidupan  adalah keterangan yang bersembunyi dibalik layar kegelapan . betapa banyak manusia tidak memahami bagaimana tuhan bersandiwara dibalik semua ini hanya untuk menguji kemampuan nalar dan melatih segala aspek kehidupan supaya manusia tetap bersinergi dengan rambu-rambu kehidupan dan melesatarikan segala sunnahnya agar bisa menerjemahkan dari dua sajak kata yang merupakan komponen penafsiran dari satu akar ‘’terang = gelap’’

Selain  keteduhan dalam menerjemahkan arti kegelapan ada segelintir kesulitan untuk membedakan arti hitam didalam kegelapan dimana terkadang hatipun menutup mata bahkan otak-pun tidak dapat melogikan persamaan dalam perbedaan, dan perbedaan dalam kesamaaan , perlu kiranya untuk menutup semua pintu, jendela, lampu, diseluruh ruang kamar, sehingga seolah-olah semuanya berada dalam kegelapan, semuanya dilakukan untuk mencari kebenaran arti hitam dalam kegelapan, hingga terkadang pula ingin rasanya memaknai kebisuan dan rasa sepi yang ada.  Biarkan hari itu menjadi buta lagi tuli dengan harapan tuhan memberikan jawaban atas semua ini.

Tapi waktu memberikan definisi berbeda ,’bahwa hitam bukanlah warna melainkan seguntir penjelasan dari gelap.

Hingga hitampun menjawab dengan tamparan seolah berkata : aku bukan kegelapan dan kegelapan bukanlah aku’’ apa-apaan ini ?...perlahan hitam dalam gelap membuat bisu dan hening menjadikan kerinduan itu datang menggebu.

Setidaknya Allah SWT pernah berfirman :

أَوْ كَظُلُمَٰتٍ فِى بَحْرٍ لُّجِّىٍّ يَغْشَىٰهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِۦ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِۦ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَآ أَخْرَجَ يَدَهُۥ لَمْ يَكَدْ يَرَىٰهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورًا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ

Terjemah Arti: Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

Meskipun ayat tersebut oleh Allah Swt diperuntukkan orang kafir tapi setidaknya penggalan ayat diatas menjadi manis  jika diulas dari makna kandungan’ gelap dalam ayat tersebut seolah-olah memang tidak memiliki dilalah akan adanya ‘warna’ tertentu bahkan gelap pun tidak berarti tanpa hadirnya sosok terang . maka menarik sekali jika sosok budayawan ‘’Emha Ainun Najib ‘’pernah berkata melalui melodi syairnya ‘’kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya tak diterima’’.  Dari sepatah kata demikian gelap tetap tidak mendapat ruang dan itu hanya menjadi sebuah harapan untuk menerjemahkan ketiadaan terang .

Dalam kehadiran mentari ilustrasi kadang dibungkam oleh buai ruang yang menghampar dipermukaan, pun begitu dengan gelap ia akan dengan sendirinya kehilangan konotasi warna karena hadirnya siang. Dengan begitu anggun tuhan menciptakan dimensi ciptaan-Nya, sehingga makhluk pribumi hanya menjadi media sorot untuk memandang dan membenarkan betapa kuasa Allah Swt menciptakaan kesamaan dalam perbedaan.

Sombong  bukan ? jika dengan hadirnya ayat teduh surah Al-Baqarah ayat 164  kita tidak bertadabbur (berfikir mendalam\merenung )tentang betapa dahsyat cara Allah Swt memindahkan siang menjelang malam dan gelap beralih terang . jika kita renungi dengan kefakiran maka diakui ataupun tidak ! hal itulah yang dinamakan kemustahilan yang memberi definisi. dimana Allah Swt telah mengatur peredaran waktu yang singkat dengan berbagai jenis dimensi. Mulai detik ke menit, menit ke jam , jam ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun dan tahun ke abad. Sampai saat inipun kita bisa merasakan keindahan dimensi tersebut. Betapa banyak ke-ilmiahan bungkam hanya dengan segelintir ke-esaan yang diperlihatkan, dan betapun heboh jika kita memandang sudut yang tidak pernah kita lihat sebelumnya kemudian sejenak hadir dalam rupa mengherankan. Begitulah siklus yang terjadi diplanet bulat ini,  dengan perputaran yang mengitari poros dia tidak sedikitpun berpindah untuk mengalihkan tempat semulanya . bisa kita bayangkan betapa dahsyat jika dalam hitungan menit saja, bumi yang selama ini kita injak diam tanpa perputaran atau kencang tanpa didasari pengendalian, maka tidaklah sulit kiranya untuk kita tebak bahwa yang akan terjadi adalah keanehan bahkan lebih parahnya ‘’kehancuran’’. sehingga nadi-pun berdenyut seolah tidak ingin lepas dengan keesaan-Nya.

            Begitulah Allah Swt dengan segala keelokan-Nya telah menciptakan udara sebagai kondisi dan kondisi sebagai penerjemah dalam situasi. Sehingga tidak jarang kita lupakan bahwa dibalik siang dengan kulturnya ada sosok malam dengan buaianya.  Dalam kitab Ihya, ulumuddin dijelaskan berdasarkan ungkapan dari Abu- Sulaiman bahwa ‘’  perangai penikmat malam dalam dimensi waktu petang (malam) itu lebih nikmat dari pada kisaran musik yang diantar oleh melodinya, jika seandainya tanpa waktu petang maka aku benci untuk bercumbu dengan dunia’’.[1] Dari untaian kalam tersebut bukan berarti seorang Abu- sulaiman ingin menafikan hadirnya siang tapi dengan berbagai anugerah yang terkandung didalamnya betapa rindang Allah swt menciptakan waktu dengan berbagai manfaat dan rahasia didalamnya . dengan siang kita menghadirkan anggota  untuk segala aktivitas baik yang berkisar dengan manusiawi (habl-min-Annas) ataupun dengan lingkungan (habl min Al-alam) dan disisi lain, Ia pun menciptakan malam dengan berbagai karunia untuk pengabdian dirinya menghadap maha pahlawan ( Allah swt \ Habl min Allah). bahkan dalam ungkapannya diteruskan dengan untaian ‘’ tidak ada bobot kadar dari waktu yang terjadi didunia yang levelnya menyamai kelezatan surgawi kecuali hadirnya sosok petang(malam)’’

Dalam ungkapan Syaikh Muhammad Al-ghozali pernah disebutkan bahwasanya ada khabar dari tuhan yang berbunyi :اي عبدي انا الله الذي إقتربت من قلبك وباالغيب رأيت نوري  ; mana sosok hambaku’ ? siapapun hambaku ! saya adalah (Allah) yang senantiasa dekat dengan hatimu dan dengan perantara gelap dirimu akan tahu tentang diriku ( cahayaku).[2]

Dari berbagai hias yang memberi ruang pada petang, disana Allah SWT memberikan warna dengan rahasia-rahasianya yang hal demikian hanya dapat dinikmati oleh pujangga perangai kegelapan. Diwaktu tersebut banyak sekali hikmah untuk digapai melalui tadabbur, tafakkur ataupun tadzakkur. Karna Allah swt sudah menyiapkan bingkisan khusus untuk orang yang menghadap  petang untuk melantunkan melodi ruhaniahnya demi bersenandung menggarungi eloknya malam .

Maka dari sinilah sirna segala kegelapan terganti oleh cahaya keterangan dan angin adalah sahabat penghantar segala rintihan inilah sepucuk surat untuknya :

Wahai angin !..

 sampaikan salamku pada tuhan

Bahwa munajatku masih berantakan

Hingga diri ini terlunta-lunta dalam kesendirian

Tidak adalagi yang hamba harapkan

Selain belaian mesra dari kesucian

Wahai angin semilir malam…

Adakah aroma pelepas dalam kerinduan

Untuk meminta kasih pada keagungan

Mengemis bukanlah suatu kehinaan

Menangis bukanlah kecengengan

Kasihanilah ketidakberdayaan hamba

Dalam tahap pengabdian seorang hamba dengan ketidakberdayaan memerlukan sekurang-kurangnya tiga hal[3] untuk menyelam memperoleh hakikat dari pada keterangan ( penglihatan). :

1.      Merasakan

2.      Menikmati

3.      Menyaksikan

Maka dari tiga  intulah ! kita dapat menyelam dari alam lembutnya perniagaan untuk berseteru dalam penghayatan kesadaran. Dalam artian merasakan segala aspek perjalanan melalui tahap penggalian dan menikmati segala yang kita rasakan dengan mencium hikmah kedamaian lalu kemudian selalu dawam ( terus-menerus) melakukan pencapaian sehingga kita benar-benar tahu apa arti terang dibalik kegelapan.

Sudah tidak jarang terjadi, hamba yang terlampau dalam teduhnya perasaan  kadang terhepnotis sehingga tenggelam dalam kerendahan (ketidakberdayaan), dan tidak jarang pula hamba yang terlampau dalam menghirup irama kenikmatan terjatuh dalam perangai buaian kasmaran dan bukanlah keanehan jika bagi seorang yang melihat pada hakikat persaksian terjatuh dalam biang kehampaan. Karena pada dasarnya semakin erat kekuatan birahi dalam menghimpun dunia persemedian bersama rasa akan semakin nikmat dan selalu terus menerus menyelam sehingga benar-benar lupa ‘ apa itu rasa? Apa itu nikmat? Apa itu gelap ? dan apa pula itu terang ? Apa itu segalanya? Dan untuk apa itu semua ? …..dan akan menjerit dalam kesunyian untuk menyatakan kebenaran.

‘’Selamat tinggal kegelapan ‘’

 

 

Jika panas, keringkan lukamu. Jika hujan, nikmati rindu. Jika gelap, biarkan harapan menuntunmu. Mentari akan selalu terbit, begitupun senyumanmu

‘’-fiersa besari-‘’

 

 



[1] Abu sulaiman, kitab ihya, ulumuddin jilid 1 Hal 358

[2] Abu-Hamid Al-Ghozali, ihya ulum Ad-din jilid 1 hal 358

[3] Abi Al-Qasim Al-Qusyairy, kitab Risalah Qusairiyah Hal 154, Darl Al-Mahjah Al-baidha

Posting Komentar untuk "Menafsiri kegelapan"