Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tersesat dalam surga


Tersesat dalam Surga
Oleh: Khozinul Asror S.H

Berbicara tentang kata  “Surga” dan “tersesat” pasti yang muncul dalam benak kalian adalah suatu kata yang bertolak saling bertolak belakang dalam aplikasi kehidupan bukan?. Karena dalam alam bawah sadar kita telah yakin dengan statement berikut, “Jika kita berbuat baik akan masuk Surga, dan dan orang orang yang tersesat dari kebaikan akan menuju Neraka”. Di dalam buku ini tepatnya bab ini, penulis tegaskan itu tidak sepenuhnya benar. Semua hal yang berkaitan dengan nilai nilai yang kalian yakini dari statement itu perlu dikaji dalam konteks yang lebih luas.

“Surga”  kita bahas dalam konteks yang popular dalam Stigma[1] masyarakat ini diibiratkan sebagai belenggu. Dalam hal ini surga menjadi iming iming bagi kita sebagai motivasi dalam berbuat kebaikan. Andai surga tak ada, coba jawab pertanyaan ini “Masihkah anda berbuat baik pada Tuhan dan makhluk-NYA?”. Terlebih ada sebuah hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

الدنيا سجن المؤمن و جنة الكافر

Artinya: “ Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir” 

(HR Muslim)

Dihadits tersebut jelas bahwa Dunia dikatakan sebagai “Surga” dan juga sebuah “Penjara” . lalu pakah surga adalah suatu kenikmatan yang sempurna dan tujuan kita? Tentu bukan. Kita lihat walau dunia yang merupakan surga dari orang kafir, tapi juga banyak orang kafir yang tertindas dan tidak sejahtera. Begitu juga kaum mukmin, walau dunia dikatakan sebagai sebuah penjara tapi bisa kita lihat, tidak sedikit orang beriman yang hidupnya damai dan sejahtera di dunia. Rumit bukan? Itulah mengapa kita tidak bisa mengartikan suatu konsep dalam satu sisi saja.

 Namun, bila konsep surga yang kita ketahui didalami dan bedah maka kita akan tahu bahwa surga tidak sekerdil itu. Surga bukanlah hanya belenggu yang mengikat kita agar menjadi baik, tapi juga bisa diartikan surga adalah suatu keadaan yang mana membuat hati menjadi tenang dan puas tanpa terbesit satupun keinginan lain. Hal ini cukup menjelaskan mengapa surga memiliki makna yang jauh lebih dalam dari yang kita kira selama ini.  

Orang beriman meskipun semua tercukupi dalam dunia tapi belum tentu memiliki ketenangan batin dan bahkan masih haus akan kenginan duniawi dan ukhrowi yang masih terus selalu ingin ditingkatkan dalam hal keimanan. Karena kegundahan hati itulah mengapa dalam hadits tersebut diutarakan dunia adalah penjara bagi orang mukmin, karena orang mukmin baru akan tenang dan sangat puas bila telah bertemu dengan dzat tuhan yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Dimana hal ini adalah nikmat yang  terhingga bagi orang mukmin.

Begitupun orang kafir meskipun dikatakan dunia adalah surga bagi mereka, dan mereka juga tidak menemukan ketenangan dan kesejahteraan di dunia. Dapat kita pahami mengapa seburuk apapun keadaan mereka didunia mereka tidak akan bisa mendapat kenikmatan dari akhirat meski sama sama melihat dzat Allah SWT. Yang ada dalam diri mereka malah rasa bersalah, penyesalan dan keputusasaan yang tak henti hentinya. Bahkan juga konsep ini masyhur dalam kisah terdahulu yang terdapat dalam kitab kitab klasik[2].

Sejalan dengan interpretasi kata “Surga” yang demikian, diksi “Tersesat” pun memilki konotasi yang bervariasi. Mulai dari negatif bila kita kaitkan dengan arti “tidak berada di jalan kebenaran”. Bahkan bisa menjadi positif bila kita artikan tersesat adalah “Fanatik”, mengapa demikian?. Sudah pasti kalian bertanya Tanya akan hal tersebut?. Hal ini dikarenakan sikap tersesat secara Waqi’iyyah [3] adalah sikap terpaku pada suatu kebenaran yang diyakini tanpa mencari suatu kebenaran lain yang ada disekitarnya.

 Seperti contoh seorang manusia yang meyakini suatu aliran agama dan percaya padanya, sedangkan tidak pernah mempelajari atau membandingkan aliran yang diyakininya dengan aliran lain. Lalu contoh lain dimana seorang manusia tersebut yakin dan percaya pada suatu aliran setelah melalui proses membandingkan dan mempelajari aliran lain. Sekilas mirip namun berbeda bukan? Manakah yang termasuk tersesat? Tentu saja contoh yang pertama.

Mindset yang tergolong fanatik tanpa memiliki keterbukaan dalam berfikir cukup dikategorikan sebagai tersesat. Tentu bila diaplikasikan pada aqidah akan menjadi bentuk sesuatu yang baru, yaitu tersesat dalam konsep ilahi dimana kita tak tahu menahu akan dosa dosa dan berfokus pada Taqarrub pada tuhan kita. Fenomena yang penulis sebut dengan “Tersesat dalam Surga” adalah suatu anugerah yang patut disyukuri.

Namun, seringkali terdapat banyak pihak yang menjadi berkonfrontasi akibat merasa mereka telah “Tersesat dijalan yang benar”. Tak jarang dengan pegangan hadits bahwa umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan yaitu Ahlus sunnah wal jamaah, mereka berani menghancurkan selain mereka dengan dalih menegakkan agama. Dalil itu berbunyi:

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

Artinya: “Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Sedangkan versi lain yang terdapat dalam kitab karya Imam Alghozali yaitu faishalut Tafriqah menyatakan bahwa dengan tegas semua golongan itu masuk surga kecuali satu. Dan disebutkan juga dalam Takhrij Ahaadist Musnad al-Firdaus karya Ibnu Hajar:

تفرق على بضع وسبعين فرقة، كلها في الجنة إلا واحدة، وهي الزنادقة.

Artinya: “(Umatku) terpecah menjadi 70 sekian kelompok,  semuanya berada di surga kecuali satu,  yaitu kaum zindiq.”

Lalu siapakah kaum zindiq tersebut? Ibnu Qudaamah menjelaskan dalam kitab al-Mughni, bahwa Zindiq adalah orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakan keislaman, alias orang munafiq

Hal tentang Truth Claim[4] ini yang semakin berlarut larut membuat istilah tersesat memiliki konotasi yang buruk dalam aqidah. Padahal tersesat itu tidak apa dengan catatan kita tersesat di jalan surgawi atau kebenaran agama. Mengutip dari buku tentang islam nusantara karangan tokoh NU disebutkan disitu “riwayat yang menentukan bahwa satu-satunya kelompok yang masuk surga (Aswaja) adalah golongan yang tidak elit dan mau mengakui hak kelompok lain. Sedangkan versi yang menyatakan satu kelompok saja yang tidak masuk neraka adalah kelompok yang mengklaim dirinya paling benar”.

Yang terpenting dalam menyikapi konsep tersesat adalah selalu memiliki jiwa yang teguh dan tentunya bersikap kritis. Boleh kita selalu tersesat dalam kebenaran tapi bukan berarti kita selalu statis. Dalam mindset orang tersesat harus juga memilki nalar yang kritis untuk selalu berkembang dalam menjelajahi khazanah keagamaan. Hingga suatu ketika karena terlalu tersesatnya anda dalam agama, anda selalu mabuk akan agama dalam berbagai aspek.

Setinggi-tingginya tingkatan mabuk, adalah ketika kalian semua tidak sadar jikalau sedang mabuk. Terlebih ketika mabuk agama,  maka akan selalu berada tuhan dalam hati, sikap, logika dan keseharian tanpa sadar. Karena ketika seluruh bidang kita kaitkan dengan agama sungguh itu adalah ketersesatan dalam surga secara nyata. Bahkan tokoh ilmuan dunia Albert Einsten pernah mengatakan “ Science without religion is blind, and religion without science is lame” yang berarti Sains tanpa agama itu buta, dan agama tanpa sains itu lemah. Itulah mengapa kenapa kita tidak perlu takut tersesat terutama tersesat di jalan yang benar.

Mengutip dari buku “Hitler Effect” karya Putu Yudhiantara, manusia memiliki kebutuhan akan mendapatkan atau membawa kebenaran. Karena menurutnya manusia selalu menuntut akan pembenaran atas segala sesuatu yang dia lakukan. Entah benar atau salah menurut agama, nista atau mulia menurut etika mereka akan selalu mencari berbagai alasan untuk membenarkan tindakan mereka.

Dalam literatur islam, disebutkan sebuah cerita tentang imam syafi’I yang membuat takjub seluruh rekan-rekannya bahkan terpaku berselimut rasa keheranan. Hal itu karena beliau tanpa diduga tiba-tiba mencium tangan seorang lelaki tua dan berpakaian lusuh. Rekan beliau pun terkejut dan bertanya “Mengapa seorang imam dan ulama besar seperti anda mencium tangan orang tersebut? padahal masih banyak orang lain yang lebih pantas anda cium tangnnya daripada dia?”. Namun apa jawaban imam madzhab satu ini? Beliau menjawab “dulu aku pernah bertanya pada dia, bagaiamana menentukan seekor anjing telah mencapai usia balligh? Lalu dia menjawab, “jika seekor anjing telah kencing dengan mengangkat sebelah kakinya maka anjing itu telah balligh”. Itulah contoh pembenaran dari imam syafi’i atas tindakan beliau mencium tangan lelaki itu, karena orang itu telah mengajari dia akan tolak ukur balligh seekor anjing.

  Begitupun yang kita tau tentang sejarah dari Muawiyah bin Abi Sufyan yang melakukan politik dan strategi untuk mengambil kekuasaan dari khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan alasan kematian Khalifah Utsman bin Affan yang terbengkalai kasusnya, serta alasan demi keamanan Negara. Beliau melakukan pembenaran atas tindakan tersebut meski sekilas tindakan itu seakan akan tidak menghormati Khalifah dan  mencederai keputusan sahabat sahabat yang lain.

Alhasil, dapat kita pahami bahwa semua bentuk ekspresi dari perwujudan di dunia ini tergantung bagaimana kita melihat dari sudut pandang mana kita melihat. Benar dan salah adalah dua sisi koin yang tak dapat dipisahkan. Mulai dari perbandingan dua hadits diatas yang mana dipahami sekilas dapat bertentangan namun bila kita tinjau dari perpektif yang berbeda kita dapat menemukan win win solution[5] yang sejati.

Sehingga dapat kita ambil kesimpulan bahwa surga adalah suatu tempat kita semua berhak memiliki. Bukan ranah kita untuk saling mengklaim kepemilikan tempat mulia itu. Bukan juga dengan amal perbuatan atau tingkatan “Tersesat” kita setinggi apa dalam agama. Tapi Surga adalah hak prerogratif tuhan dalam menentukan siapa siapa saja yang berhak didalamnya. Kita hanya bisa sebagai makhluk-Nya mengharap keridhoan-Nya. Serta menjaga keharmonisan dan kerukunan ummat dengan menjunjung tinggi nilai keberagaman dan toleransi. Karena Allah adalah Tuhan kita semua, bukan Tuhanmu saja.

 



[1] Stigma : pandangan atau pikiran akan suatu hal tertentu

[2] KIsah Imam Ibnu Hajar dengan Orang yahudi

[3] Realisme atau kenyataan yang sudah terjadi di dalam kehidupan

[4] Truth Claim adalah sikap merasa menjadi kelompok yang dominan dengan mengklaim kebenaran adalah milik kelompok mereka seorang

[5] Konsep akhir dimana kedua belah pihak mendapatkan hasil yang diinginkan atau perdamaian

 

Posting Komentar untuk "Tersesat dalam surga"