Tersesat dalam surga
Berbicara tentang kata
“Surga” dan “tersesat” pasti yang muncul dalam benak kalian adalah suatu
kata yang bertolak saling bertolak belakang dalam aplikasi kehidupan bukan?.
Karena dalam alam bawah sadar kita telah yakin dengan statement berikut, “Jika
kita berbuat baik akan masuk Surga, dan dan orang orang yang tersesat dari
kebaikan akan menuju Neraka”. Di dalam buku ini tepatnya bab ini, penulis
tegaskan itu tidak sepenuhnya benar. Semua hal yang berkaitan dengan nilai
nilai yang kalian yakini dari statement itu perlu dikaji dalam konteks yang
lebih luas.
“Surga” kita bahas dalam
konteks yang popular dalam Stigma[1]
masyarakat ini diibiratkan sebagai belenggu. Dalam hal ini surga menjadi iming
iming bagi kita sebagai motivasi dalam berbuat kebaikan. Andai surga tak ada,
coba jawab pertanyaan ini “Masihkah anda berbuat baik pada Tuhan dan
makhluk-NYA?”. Terlebih ada sebuah hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi:
“الدنيا سجن المؤمن و جنة الكافر
“
Artinya: “ Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi
orang kafir”
(HR Muslim)
Dihadits tersebut jelas bahwa Dunia dikatakan sebagai “Surga” dan
juga sebuah “Penjara” . lalu pakah surga adalah suatu kenikmatan yang sempurna
dan tujuan kita? Tentu bukan. Kita lihat walau dunia yang merupakan surga dari
orang kafir, tapi juga banyak orang kafir yang tertindas dan tidak sejahtera.
Begitu juga kaum mukmin, walau dunia dikatakan sebagai sebuah penjara tapi bisa
kita lihat, tidak sedikit orang beriman yang hidupnya damai dan sejahtera di
dunia. Rumit bukan? Itulah mengapa kita tidak bisa mengartikan suatu konsep
dalam satu sisi saja.
Namun, bila konsep surga
yang kita ketahui didalami dan bedah maka kita akan tahu bahwa surga tidak
sekerdil itu. Surga bukanlah hanya belenggu yang mengikat kita agar menjadi
baik, tapi juga bisa diartikan surga adalah suatu keadaan yang mana membuat
hati menjadi tenang dan puas tanpa terbesit satupun keinginan lain. Hal ini
cukup menjelaskan mengapa surga memiliki makna yang jauh lebih dalam dari yang
kita kira selama ini.
Orang beriman meskipun semua tercukupi dalam dunia tapi belum tentu
memiliki ketenangan batin dan bahkan masih haus akan kenginan duniawi dan
ukhrowi yang masih terus selalu ingin ditingkatkan dalam hal keimanan. Karena
kegundahan hati itulah mengapa dalam hadits tersebut diutarakan dunia adalah
penjara bagi orang mukmin, karena orang mukmin baru akan tenang dan sangat puas
bila telah bertemu dengan dzat tuhan yang maha kuasa yaitu Allah SWT. Dimana
hal ini adalah nikmat yang terhingga
bagi orang mukmin.
Begitupun orang kafir meskipun dikatakan dunia adalah surga bagi
mereka, dan mereka juga tidak menemukan ketenangan dan kesejahteraan di dunia.
Dapat kita pahami mengapa seburuk apapun keadaan mereka didunia mereka tidak
akan bisa mendapat kenikmatan dari akhirat meski sama sama melihat dzat Allah
SWT. Yang ada dalam diri mereka malah rasa bersalah, penyesalan dan
keputusasaan yang tak henti hentinya. Bahkan juga konsep ini masyhur dalam
kisah terdahulu yang terdapat dalam kitab kitab klasik[2].
Sejalan dengan interpretasi kata “Surga” yang demikian, diksi
“Tersesat” pun memilki konotasi yang bervariasi. Mulai dari negatif bila kita kaitkan
dengan arti “tidak berada di jalan kebenaran”. Bahkan bisa menjadi positif bila
kita artikan tersesat adalah “Fanatik”, mengapa demikian?. Sudah pasti kalian
bertanya Tanya akan hal tersebut?. Hal ini dikarenakan sikap tersesat secara Waqi’iyyah
[3] adalah
sikap terpaku pada suatu kebenaran yang diyakini tanpa mencari suatu kebenaran
lain yang ada disekitarnya.
Seperti contoh seorang
manusia yang meyakini suatu aliran agama dan percaya padanya, sedangkan tidak
pernah mempelajari atau membandingkan aliran yang diyakininya dengan aliran
lain. Lalu contoh lain dimana seorang manusia tersebut yakin dan percaya pada
suatu aliran setelah melalui proses membandingkan dan mempelajari aliran lain.
Sekilas mirip namun berbeda bukan? Manakah yang termasuk tersesat? Tentu saja
contoh yang pertama.
Mindset yang tergolong fanatik tanpa memiliki keterbukaan dalam
berfikir cukup dikategorikan sebagai tersesat. Tentu bila diaplikasikan pada
aqidah akan menjadi bentuk sesuatu yang baru, yaitu tersesat dalam konsep ilahi
dimana kita tak tahu menahu akan dosa dosa dan berfokus pada Taqarrub
pada tuhan kita. Fenomena yang penulis sebut dengan “Tersesat dalam Surga”
adalah suatu anugerah yang patut disyukuri.
Namun, seringkali terdapat banyak pihak yang menjadi berkonfrontasi
akibat merasa mereka telah “Tersesat dijalan yang benar”. Tak jarang dengan
pegangan hadits bahwa umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang
selamat hanya satu golongan yaitu Ahlus sunnah wal jamaah, mereka berani
menghancurkan selain mereka dengan dalih menegakkan agama. Dalil itu berbunyi:
عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ
عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ
فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ
سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ
وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Artinya: “Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy
‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah)
pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami,
kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu
dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua)
golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh
tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu
golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”
Sedangkan
versi lain yang terdapat dalam kitab karya Imam Alghozali yaitu faishalut
Tafriqah menyatakan bahwa dengan tegas semua golongan itu masuk surga kecuali
satu. Dan disebutkan juga dalam Takhrij
Ahaadist Musnad al-Firdaus karya Ibnu Hajar:
تفرق على بضع وسبعين فرقة، كلها في
الجنة إلا واحدة، وهي الزنادقة.
Artinya:
“(Umatku) terpecah menjadi 70 sekian kelompok, semuanya berada di surga
kecuali satu, yaitu kaum zindiq.”
Lalu siapakah kaum zindiq tersebut?
Ibnu Qudaamah menjelaskan dalam kitab al-Mughni, bahwa Zindiq adalah
orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakan keislaman, alias orang
munafiq
Hal tentang Truth Claim[4]
ini yang semakin berlarut larut membuat istilah tersesat memiliki konotasi yang
buruk dalam aqidah. Padahal tersesat itu tidak apa dengan catatan kita tersesat
di jalan surgawi atau kebenaran agama. Mengutip dari buku tentang islam
nusantara karangan tokoh NU disebutkan disitu “riwayat yang menentukan bahwa
satu-satunya kelompok yang masuk surga (Aswaja) adalah golongan yang tidak elit
dan mau mengakui hak kelompok lain. Sedangkan versi yang menyatakan satu
kelompok saja yang tidak masuk neraka adalah kelompok yang mengklaim dirinya
paling benar”.
Yang terpenting dalam menyikapi konsep tersesat adalah selalu
memiliki jiwa yang teguh dan tentunya bersikap kritis. Boleh kita selalu
tersesat dalam kebenaran tapi bukan berarti kita selalu statis. Dalam mindset
orang tersesat harus juga memilki nalar yang kritis untuk selalu berkembang
dalam menjelajahi khazanah keagamaan. Hingga suatu ketika karena terlalu
tersesatnya anda dalam agama, anda selalu mabuk akan agama dalam berbagai
aspek.
Setinggi-tingginya tingkatan mabuk, adalah ketika kalian semua
tidak sadar jikalau sedang mabuk. Terlebih ketika mabuk agama, maka akan selalu berada tuhan dalam hati,
sikap, logika dan keseharian tanpa sadar. Karena ketika seluruh bidang kita
kaitkan dengan agama sungguh itu adalah ketersesatan dalam surga secara nyata.
Bahkan tokoh ilmuan dunia Albert Einsten pernah mengatakan “ Science without
religion is blind, and religion without science is lame” yang berarti Sains
tanpa agama itu buta, dan agama tanpa sains itu lemah. Itulah mengapa kenapa
kita tidak perlu takut tersesat terutama tersesat di jalan yang benar.
Mengutip dari buku “Hitler Effect” karya Putu Yudhiantara, manusia
memiliki kebutuhan akan mendapatkan atau membawa kebenaran. Karena menurutnya
manusia selalu menuntut akan pembenaran atas segala sesuatu yang dia lakukan.
Entah benar atau salah menurut agama, nista atau mulia menurut etika mereka
akan selalu mencari berbagai alasan untuk membenarkan tindakan mereka.
Dalam literatur islam, disebutkan sebuah cerita tentang imam
syafi’I yang membuat takjub seluruh rekan-rekannya bahkan terpaku berselimut
rasa keheranan. Hal itu karena beliau tanpa diduga tiba-tiba mencium tangan
seorang lelaki tua dan berpakaian lusuh. Rekan beliau pun terkejut dan bertanya
“Mengapa seorang imam dan ulama besar seperti anda mencium tangan orang
tersebut? padahal masih banyak orang lain yang lebih pantas anda cium tangnnya
daripada dia?”. Namun apa jawaban imam madzhab satu ini? Beliau menjawab “dulu
aku pernah bertanya pada dia, bagaiamana menentukan seekor anjing telah
mencapai usia balligh? Lalu dia menjawab, “jika seekor anjing telah kencing
dengan mengangkat sebelah kakinya maka anjing itu telah balligh”. Itulah contoh
pembenaran dari imam syafi’i atas tindakan beliau mencium tangan lelaki itu,
karena orang itu telah mengajari dia akan tolak ukur balligh seekor anjing.
Begitupun yang kita tau
tentang sejarah dari Muawiyah bin Abi Sufyan yang melakukan politik dan
strategi untuk mengambil kekuasaan dari khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan
alasan kematian Khalifah Utsman bin Affan yang terbengkalai kasusnya, serta
alasan demi keamanan Negara. Beliau melakukan pembenaran atas tindakan tersebut
meski sekilas tindakan itu seakan akan tidak menghormati Khalifah dan mencederai keputusan sahabat sahabat yang
lain.
Alhasil, dapat kita pahami bahwa semua bentuk ekspresi dari
perwujudan di dunia ini tergantung bagaimana kita melihat dari sudut pandang
mana kita melihat. Benar dan salah adalah dua sisi koin yang tak dapat
dipisahkan. Mulai dari perbandingan dua hadits diatas yang mana dipahami
sekilas dapat bertentangan namun bila kita tinjau dari perpektif yang berbeda
kita dapat menemukan win win solution[5]
yang sejati.
Sehingga dapat kita ambil kesimpulan bahwa surga adalah suatu
tempat kita semua berhak memiliki. Bukan ranah kita untuk saling mengklaim
kepemilikan tempat mulia itu. Bukan juga dengan amal perbuatan atau tingkatan
“Tersesat” kita setinggi apa dalam agama. Tapi Surga adalah hak prerogratif
tuhan dalam menentukan siapa siapa saja yang berhak didalamnya. Kita hanya bisa
sebagai makhluk-Nya mengharap keridhoan-Nya. Serta menjaga keharmonisan dan
kerukunan ummat dengan menjunjung tinggi nilai keberagaman dan toleransi.
Karena Allah adalah Tuhan kita semua, bukan Tuhanmu saja.
[1]
Stigma : pandangan atau pikiran akan suatu hal tertentu
[2]
KIsah Imam Ibnu Hajar dengan Orang yahudi
[3]
Realisme atau kenyataan yang sudah terjadi di dalam kehidupan
[4]
Truth Claim adalah sikap merasa menjadi kelompok yang dominan dengan mengklaim
kebenaran adalah milik kelompok mereka seorang
[5]
Konsep akhir dimana kedua belah pihak mendapatkan hasil yang diinginkan atau
perdamaian

Posting Komentar untuk "Tersesat dalam surga"