Berjabat tangan dengan tuhan
Antara bentuk nyata dari ke-esaan, dimana tuhan menciptakan aspek kehidupan dengan dimensi-Nya, hal itu merupakan segelintir uraian untuk Membedakan antara surut dan pasang, pendek dan panjang begitupun kehidupan dan ajal (kematian) .
Ruh indah manusia sengaja tuhan ciptakan sebagai penggerak jasadiyah dengan tujuan adanya permainan sekaligus perlombaan dan begitupun manusia tidak serta merta hanya mengkiblatkan hidupnya tanpa adanya seni yang setidaknya dapat diterjemahkankan sebagai refleksi keyataan. maka dari hal demikian perlu kiranya untuk merenungi kalam manis dari Allah swt surat Al-mulk ayat 2 yakni : ‘’ الذي خلق الموت والحيواة ليبلوكم ايكم احسن عملا ’’
Berapa Banyak, manusia menerjemahkan bahwa hidup adalah penderitaaan, kesengsaraan, dan kehinaan. Pada kenyataannya berapa banyak juga manusia bersenang ria, asyik dan bahkan menertawakan kehidupan . mungkin diantara kita pernah berfikir tentang apa makna dibalik hidup ? mengapa kita hidup ? dan apa tujuan hidup itu sendiri ?...
Padahal viktor E-prank dalam buku naisaban berpendapat bahwa makna hidup adalah arti hidup bukan untuk dipertanyakan tetapi direspont karena pada dasarnya kita semua bertanggung jawab untuk hidup itu sendiri. Sudah lama kiranya, seorang tokoh sufi ibn Athaillah mengingatkan ‘ bahwa sederhanya hidup adalah ajang dimana didalamnya manusia (sebagai pelaku kehidupan) harus bertikai dengan keadaan negatif yang sudah terbukukan dalam undang undang-Nya, baik berupa lawan, kawan, syaithan, dan lebih parahnya bertarung dengan dirinya sendiri untuk beralih pada episode kehidupan selanjutnya sebagai penebus ijazah untuk menjadi serjana dengan lulusan fakultas yang bernama kehidupan (duniawi), maka stempel kelulusan tidak akan diberikan kecuali dia menang pada saat dimedan peperangan (kehidupan duniawi ).
Patah hati, lesu, bahkan lukapun sudah menjadi hal yang biasa dalam proses menjalaini pendewasaan hidup, tapi demikian dilakukan untuk menempuh kebahagian sejati. Dari situlah Untuk menentang kegelisahan sigap sekali Ibn- Athaillah memberikan solusi pada kita sekalian setidaknya untaian tersebut berbunyi :
ليقل ما تفرح به يقل ما تحزن عليه
‘’Tatkala berkurang apa yang membuatmu bahagia, maka berkurang pula apa yang membuatmu sedih .’’
(Al-hikam : hal 45 )Seolah-olah dari kalimat tersebut ibnu Athaillah ingin mengatakan ‘ Eh bro urip iku biasa wae ojok ngono! lek atene seneng yo seng wajar lan lek ateni sedih yo seng wajar pisan ojok nemen-nemen ‘( eh, bro ..hidup ini biasa saja ,jangan begitu serius jika kalian bahagia se wajarnya saja dan sedihpun juga sewajarnya saja ) karena esensi dari apa yang kita tertawakan akan menjadi sesuatu yang akan kita tangisi begitupun sebaliknya’setiap apa yang kita tangisi pada hakikatnya itulah yang akan membuat kita tertawa pada akhirnya.
Dalam seni penulis , sebenarnya, Allah swt tidak menguji seorang hamba berdasarkan kata uji yang begitu sederhana dan terdengar miring untuk didengarkan.melainkan hikmah dibalik ujian tersebut Allah swt sedang menginginkan hambanya untuk lebih bijak menanggapi situasi dan senantiasa membangun diri untuk menjadi pribadi yang tidak mudah runtuh dicabik-cabik oleh keadaan. Begitulah Allah swt, yang dengan ujiannya, ia sedang menyiapkan bingkisan hadiah sebagai hasil prestasi dari pendewasaan diri dan kematangan sikap. sehingga dapat disederhanakan dengan pribahasa ‘’jika buruk segera lakukan perbaikan dan jikapun sudah baik maka segera pula melakukan peningkatan. Karena rupa-rupanya ciri dari pada pribadi yang visioner adalah dia yang dapat meninggalkan keadaannya saat ini demi melangkah pada jenjang berikutnya .
.jpeg)

Posting Komentar untuk "Berjabat tangan dengan tuhan"