Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi aksesoris

Menjadi aksesoris

Ada sebuah pertanyaan yang mugkin perlu untuk diangan dan lezat kiranya untuk dijadikan sarapan,’manakah yang lebih berat antara mendapatkan dan kehilangan? Akankan kita benar-benar mendapatkan apa yang sedang kita cari? Dan akankah  kita akan kehilangan sesuatu yang yang benar-benar kita miliki ?  Jika iya, maka kita merasa bahwa keduanya adalah sesuatu yang sangatlah penting dan berharga. Dan rasa itu muncul karena pada diri kita tertanam  rasa akan memiliki, sedang dan pernah memiliki.

Sebenarnya memiliki adalah aktifitas jasmani, Karena pada dasarnya apa yang  sedang kita miliki ataupun sesuatu yang akan kita miliki tidak lain semata mata hanyalah titipan dari pemilik yang hakiki (allah swt).  yang kebetulah Allah  swt sedang menitipkan kepada kita. Sehingga itulah penyebab  kita berhak untuk menjaga , mencintai,  merawatnya bahkan membanggakan seolah-olah itu benar-benar milik kita. namun berbeda dengan hati, yang mana kita harus memupuk dan menanamkan rasa untuk menafikan kata memiliki.

Tak jarang ada segelintir orang yang sampai depresi, emosi dan prustasi karena ia kehilangan jabatan, benda kesayangan, profesi, alih-alih itu semua bahkan doi (red:jawa) Kejadian yang sedemikian kerap terjadi jika dalam hati kita tersuguh kata memiliki terkait sesuatu yang pada hakikatnya hanya sebuah titipan.

Maha suci Allah yang dengan kekuasaanya telah menciptakan perasaan, menciptakan ada dan tiada. Yang  karenanya hidup hanya sebagai penghambaan dan tarian  yang sempurna sehingga tidak ada kata milik dan pemilik selain-Nya. tidak ada kata punya dan yang mempunyai kecuali Dia, sehingga bongkah jika kita bertanya mengapa semua ini harus diciptakan jika hanya menjadi sebuh beban  dan akan berlalu meninggalkan? … 

Beruntung sekali  jika dengan  alurnya kita dapat menggunakan fasilitas seindah dunia hanya dengan syarat untuk menjaganya. begitupun senandung ratapan hati selalu mengunyah alarm panggilan yang bergemulai nan bertabuain digendang telinga dan pelupuh mata hanya untuk mengiris dan mencintai segala nikmat-Nya. 

Sadar adalah bentuk kebijakan dan testimoni apakah dengan pemberiannya dahi yang gersang akan tetap disimpuhkan pada sajadah yang tandus untuk menghapar pada dzat kesucian. Berapa banyak jargon kemustahilan yang hanya menjadi duka hanya saja karena merasakan  ini semua adalah hak milik kita. Tidak malukah jika seorang tukang parkir dengan PD nya mengatakan bahwa ini adalah motor dan mobilku,!  padahal  dia hanya penerima amanah atas fitrah segala titipan.

dan tidak- kah ? kebusukan akan menjadi kehinanaan dengan segala aksesoris yang kita miliki melampaui batas sehingga seorang Qarun ditenggelamkan atas kelalaiannya dalam menjaga sebuah amanah! dan tidak kah perih matinya bagi seorang aktor legendaris kejahatan yang sudah tidak asing namanya didengar yakni  fir,aun laknatullah yang sengaja tuhan tenggelamkan atas kelalaliannya pula dalam  menjaga titipan sang  perkasa. Dan tidak-kah? Kita malu pada seorang sulaiman yang menyandang status nabi nan bijaksana yang dari awal penciptaan hingga akhir zaman tidak ada yang menandingi kerajaannya namun tetap berpiara rendah miskin ketika berhadapan dengan sang kuasa.

‘’Kecokangkahan hanyalah sebuah racun yang tidak akan pernah menjadi obat dalam penantian untuk menghadap kepada keesaaan’’

Sehingga pantas sekali jika sang primadona islam ‘’Abu-bakr as-sidq ‘’ mentasarufkan segala titipan  untuk berjuang dengan tujuan  memfungsikan pemberian dijalan yang benar.

Terkadang dengan keangkuhannya manusia lupa dan merasa genit tentang eksistensi memelihara kesadaran dalam berniaga. Sehingga lupa pula dengan standar posisi akan dirinya dan menjadikan langkahnya seolah-olah aktivitas yang harus dan perlu untuk dijadikan termameter untuk mengukur dan mengkalkulasi hasil sinerginya dengan kehidupan. Sehingga tanpa kesadaran itulah yang mendorong tahap perjalanan seolah dirinya menjadi langit dan tidak jarang lupa bahwa yang diinjak adalah  tanah kerendahan.


memiliki merupakan eksistensi yang dengannya dapat menjerumuskan  terhadap potensi kepunyaan dan faktor pendorong terbesar adalah gagalnya menyeimbangan daya naluri dan ruhani sehingga seolah pengkiblatan sejati hanyalah terpaku pada materi.

pada mulanya sosok hamba tidak akan terbirit kecuali pada potensi yang menunjukkan pada jalan yang mudah dan steril dengan tabiat hawa nafsu. kenapa demikan ?... karna! pada dasarnya tidak dapat dipungkiri bahwa  kebenaran itu pahit dan konsistensi untuk berjalan menapak padanya itu sulit sedangkan menjuru pada rell itu sendiri, merupakan suatu yang sukar. 

Jarang kita ketahui bahwa dibalik seorang hamba yang menjadi primdona adalah mereka yang paham bahwa dibalik keburukan akan ada benih  dan peluang besar untuk memperoleh pengetahuan tentang kebaikan.

Dalam sebuah syair ditembangkan :

عرفت الشر لا للشرلكن لتوقيه  * ومن لا يعرف الشرمن الناس يقع فيه

Anda mengetahui buruk bukan untuk esensi buruk itu sendiri

Melainkan bagaimana untuk anda introspeksi diri

Karna pada dasarnya seseorang yang tidak tahu akan esensi keburukan akan terjebak didalamnya

Ingatkah kita ! tentang bagaimana sejarah melukis kisah untuk memberi pelajaran. Dimana seorang sahabat Hasan Al-Basri merupakan salah satu tokoh yang ucapannya hampir menyamai kalam rasulullah SAW. Sampai pada saat  dizamannya sahabat terkesan  ingin tahu sehingga bertanya kepadanya ; ‘ wahai Aba Said (sapaan akrab Hasan Al-Basri)‘ sungguh aku tidak pernah mendengar untaian kata yang engkau ucapakan selain darimu ! dimanakah engkau mendapatkat ungkapan yang demikian rupa?..sontak Hasan Al-Basri menjawab! Dari Huzaifah ibn Al-yaman! ..kemudian pertanyaan yang sama dipertanyakan kepada Huzaifah, sehingga Huzaifah menjawab! Ungkapan demikian aku dapatkan dari Rasulullah SAW, Dimana beliau memberikan ungkapan spesial kepadaku karena aku bertanya tentang apa yang yang tidak dipertanyakan oleh mayoritas umum pada saat itu. Yang mana kebanyakan seseorang mempertanyakan efek positif dari suatu hal, sedangkan aku tidak! , melainkan sebaliknya . dengan alasan  karena aku khawatir terjerumus dalam keburukan .

Itulah sebabnya , aku tahu bahwa secara porsi seseorang yang tidak mengetahui esensi dari keburukan tidak akan tahu pula esensi dari kebaikan. Bahkan dalam Riwayat lain sahabat Huzaifah merupakan seorang yang bisa tahu secara detail dan khusus tentang kenifakan sekitar. Sampai sahabat umar bertanya kepada beliau tentang  hal tersebut,  tapi sahabat Huzaifah tidak menyebutkan secara identitas tapi hanya menyebutkan porsi secara kuantitas yang ia ketahui dalam bathin manusia  . dan dari situlah seorang Huzaifah mendapat gelar ‘’Shohib Al-sir ( orang yang mengetahui rahasia ).

Umur adalah hadiah terbesar dari Allah swt karena dengannya manusia dapat menghimpun serta berniaga dalam kehidupan. Maka Jangan ulangi kebodohan yang sama! sudah berapa banyak diusia dewasa manusia meratapi dan menyesali  masa mudanya berlalu meninggalkan begitu saja. Hari-harinya digunakan berlalu sia-sia dimana waktu  istimewa dimanfaatkan untuk berfoya-foya, melampiaskan hawa nafsu angkara, lupa memperbaiki diri untuk investasi masa depannya. Apakah kita termasuk diantaranya ?.....dan betapa banyak diusia ujung senja pada fase akhir hayatnya terkadang seseorang menyesali hidup yang tidak bermakna, umurnya dihabiskan untuk mengejar kebahagian yang renta, memperturutkan syahwat semata, lupa hakikat akan ia dicipta.



Biarkan dirimu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai, karena setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar. Jadi berhentilah untuk merasa begitu kecil, karena kamu adalah alam semesta yang bergembira.

‘’ Jalaluddin Rumi ‘’





Posting Komentar untuk "Menjadi aksesoris"